Plagiarisme, Taruhan Integritas Penulis atau Kredibilitas Penerbit?

SCofCI.org Melihat begitu masifnya sharing pemberitaan di kanal sosial media soal dugaan tindakan plagiarisme Dr. Zamrun Rektor Universitas Halu Oleo, saya jadi ingin menuliskan kegundahan saya. Bukan karena saya ingin membela Dr. Zamrun, namun karena saya sebagai salah satu pengelola Jurnal Ilmiah Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (https://ejournal.stipwunaraha.ac.id/index.php/ISLE atau klik di SINI) merasa berkepentingan untuk ikut berbicara. Mengapa? Saya sedikit paham soal praktik publikasi khususnya artikel ilmiah.

Sepanjang pertengahan 2017 sampai awal 2018, kasus plagiarisme telah melilit beberapa kampus negeri. Mulai dari doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta¬† sampai Rektor Universitas Halu Oleo terpilih Dr. Zamrun. Dugaan plagiarisme Dr. Zamrun terus bergulir dalam wacana sosial media, bahkan menjadi issu yang cukup hangat dibicarakan dikanal-kanal grup dosen dan peneliti baik di WhatsApp, Telegram, terlebih Facebook. Pada pertengahan 2017 lalu, issu dugaan plagiarisme yang melilit Dr. Zamrun begitu kencang berhembus, bola panas bahkan dibawa ke meja Ombudsman RI (ORI). Hasilnya? Nihil tanpa kejelasan. Opini yang berkembang seolah memberi keyakinan bahwa Dr. Zamrun terbukti plagiat. Terbaru di penghujung Januari 2018 datang dari kanal Detik.com (baca di SINI) menyoal hasil investigasi ORI yang dulu kandas di penghujung Juli 2017. Sila lihat jejak digitalnya, mulai dari Kompas.com (baca di SINI), RMol.co (baca di SINI) dan media-media nasional dan lokal lainnya silahkan cari sendiri. Ini menandakan betapa besarnya perhatian pembaca bahkan setelah pihak Kemenristekdikti memberikan klarifikasi atas dasar hasil investigasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) bentukan Menristekdikti pada 22 Juli 2017 lalu (info baca di SINI). Jika kita mencari di kanal pencarian Google.com dengan kata kunci “Rektor UHO Dr. Zamrun plagiat” setidaknya sekitar 1.480 hasil pencarian dalam waktu 0,56 detik. Hasilnya, ada 10 pemberitaan teratas media nasional dan lokal terkait dugaan itu. Artinya, plagiarisme memang masuk kategori berita panas.

Saya tidak ingin membahas secara spesifik kasus dugaan plagiarisme yang dituduhkan kepada Dr. Zamrun Rektor UHO yang saat ini terus menggelinding di meja ORI. Saya justru tertarik pada artikel postingan Kumparan (lengkapnya baca di SINI) yang mengangkat “4 Akademisi Tanah Air Yang Terjerat Kasus Plagiarisme”. Kesan seolah keempat akademisi itu dengan legowo, mengakui kesalahan dan menerima sanksi administrasi dari institusi yang menaunginya, lalu mengapa Dr. Zamrun tidak melakukan hal yang sama? Kira-kira mungkin begitulah tafsiran saya atas artikel Kumparan. Saya tidak ingin berpolemik soal itu. Silakan saja ditafsirkan. Saya ingin menghindari asumsi bahwa polemik plagiarisme yang terjadi pada Anggito Abimanyu atau Dr. Zamrun disorot media karena mereka-mereka adalah pejabat publik.

Untuk itu perlu klarifikasi. Apakah itu berarti bahwa plagiarisme yang dilakukan oleh mereka yang bukan pejabat publik tidak perlu disorot, tidak perlu mendapat perhatian publik, tidak perlu dikomentari, dishare dan lain-lain? Jika ini yang terjadi justru argumentasi plagiarisme yang ditudukan kepada seseorang lebih kental nuansa politiknya ketimbang nuansa akademik. Untuk itu saya tidak ingin bicara soal ini.

Saya lebih tertarik menyoal plagiarisme yang terjadi di lingkungan akademik khususnya yang terjadi di kampus-kampus pada setiap jenjang strata. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak persoalan yang belum terungkap, bukan hanya plagiarisme tapi sudah menjurus pada praktik yang lebih jahat dari itu, jual-beli ijazah. Kapan-kapan saya tulis soal ini. Kembali soal tuduhan plagiarisme, sampai hari ini 2 Januari 2018, belum ada informasi tanggapan pihak penerbit artikel yang dituduh plagiarisme itu. Gonjang-ganjing hanya berkutat pada ranah kulit tanpa meminta klarifikasi kepada penerbit artikel seperti yang terjadi pada 4 akademisi yang disinggung Kumparan di atas.

Mengapa tanggapan pihak penerbit itu penting? Karena sebelum naskah artikel diterbitkan selayaknya pihak penerbit artikel ilmiah melakukan seleksi naskah secara hati-hati. Berbagai perangkat teknologi telah dikembangkan untuk membantu tugas pencegahan plagiarisme ini. Pihak penerbit menilai lebih awal naskah itu layak terbit atau ditolak (tentu menurut kriteria-kriteria penerbit itu sendiri). Hal ini berbeda diametral dengan kasus plagiarisme yang menimpa Mochammad Zuliansyah yang didakwa plagiarisme disertasi doktornya. Dakwaan plagiarisme Zuliansyah ketahuan setelah diikutsertakan dalam The IEEE International Conference on Cybernetics and Intelligent Systems di Chengdu, Cina, 2008 sebagaimana ditulis Kumparan. Artinya, kasus plagiarisme disertasi, tesis apalagi skripsi begitu sulit dilacak manakala tidak dibuka diruang publik semisal konferensi atau publikasi jurnal ilmiah.

Yang paling mengemuka belakangan di penghujung September 2017 lalu adalah dugaan plagiarisme disertasi doktor di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) (info baca di SINI, di SINI, atau di SINI). Kuat dugaan apa yang terjadi di UNJ hanyalah riak kecil ditengah kecamuk nihilnya makna gelar akademik dewasa ini. Untuk itu perlu menjadi perhatian para petinggi yang terlalu tinggi di kampus-kampus. Kecamuk praktik kejahatan intelektual bahkan terindikasi masuk dalam ranah pidana, praktik jual-beli ijazah. Praktik ini sudah diendus pihak kementerian pendidikan. Lain waktu saya tulis soal ini.

Dugaan kejahatan intelektual dilingkungan kampus tidaklah berdiri sendiri-sendiri, melainkan bertali-temali dengan banyak hal, faktor utamanya adalah moral. Kasus-kasus plagiarisme yang pernah terekam publik jumlahnya sangat kecil, bahkan kecil sekali. Dari jumlah yang kecil itu, lalu seolah-solah kampus menjadi runtuh. Untuk itu pihak kampus lebih memilih menutup informasi semacam ini ketimbang membukanya ke ranah publik karena menyangkut marwah institusi. Kampus lebih memilih jalan sunyi sanksi akademik dengan pencabutan gelar, penundaan kenaikan jabatan fungsional bahkan penurunan jenjang jabatan fungsional ketimbang gonjang-ganjing media. Jika dugaan plagiarisme dibuka diruang publik maka sejatinya pedang sunyi intelektualitas telah kehilangan marwahnya.

Baca juga:  Drones being used to monitor WordCup

Penilaian plagiarisme di lingkungan akademik tidak bisa dipisahkan dengan proses transformasi ide, gagasan, pikiran dari penulis, peneliti, dosen, menjadi sebuah artikel ilmiah, paten, dan atau HKI. Khusus artikel, transformasi ide dalam naskah akan berlanjut ke meja penerbit lalu berakhir sebagai tulisan ilmiah populer seperti koran dan majalah atau terbit sebagai artikel ilmiah. Proses dari tangan penulis ke penerbit inilah yang menjadi gerbong seleksi plagiarisme. Penerbit artikel ilmiah lebih banyak mendiskusikan pencegahan plagiarisme pada tahap ini ketimbang menuduh artikel tertentu sebagai plagiarisme. Para pengelola jurnal ilmiah sedari awal melakukan tindakan pencegahan. Naskah yang berasal dari penulis tidak serta merta karena alasan non-akademik semisal kedekatan, kerabat, teman, kolega, dan berbagai alasan yang tidak substantif lalu suatu naskah diterbitkan begitu saja. Setidaknya para pengelola jurnal ilmiah melakukan pemeriksaan secara hati-hati dari naskah yang masuk di meja redaksi. Mesti lolos plagiarisme, mengandung novelty, barulah naskah itu masuk ke tahap berikutnya.

Perkembangan teknologi informasi saat ini seharusnya mengantar saya, anda, mereka untuk tidak menuduh si A, si B sebagai plagiator, pelaku tindakan plagiarisme. Teknologi informasi akhir-akhir semakin memudahkan berbagai pemangku kepentingan dalam pencegahan plagiarisme. Saya perlu ulangi MENCEGAH praktik plagiarisme. Saya menggunakan terminologi mencegah karena terminologi itu lebih tepat ketimbang menuduh. Apa yang ORI gunakan untuk memastikan originalitas artikel Dr. Zamrun yakni Small SEO Tools dan Turnitin kemungkinan besar juga telah digunakan penerbit artikel. Jika suatu naskah terbukti hasil plagiarisme, maka sudah pasti pihak penerbit MENOLAK naskah itu.

Jurnal ilmiah (penerbit) yang baik sudah barang tentu menerapkan praktik baik dengan melakukan tindakan pencegahan plagiarisme terhadap setiap naskah yang diterbitkan. Plagiarisme sudah dicegah sejak awal bukan setelah naskah diterbitkan. Kehati-hatian penerbit menjadi ujung tombak pencegahan plagiarisme publikasi. Sebagai catatan, Pemeriksaan plagiarisme bukan setelah naskah itu diterbitkan, melainkan sebelum naskah itu berproses di penerbit. Oleh karenannya, hanya mereka yang bermodal “berani” alias nekad saja yang akan mengirimkan naskah hasil plagiarisme ke penerbit. Dan hanya penerbit “berani” alias penerbit “asal” yang menerbitkan naskah yang mengandung plagiarisme. Anehnya, justru indikasi plagiarisme mengemuka pada saat artikel itu telah diterbitkan. Itu artinya menuduh penerbit tidak melakukan praktik baik. Sudahkah dilakukan klarifikasi ke penerbit? Apakah penerbit tidak melakukan pengecekan plagiarisme? Bagi saya justru ini menjadi pertanyaan besar, jika artikel itu memang terbukti plagiarisme. Ada apa?

Jauh lebih baik ORI jika berani, bukalah naskah kenaikan jabatan fungsional akademik dosen jenjang Guru Besar disetiap kampus di republik ini. Ada berapa yang terindikasi plagiarisme? Sebagai clue saja, coba tengok Science and Technology Index (SINTA) di http://sinta2.ristekdikti.go.id/ yang dikembangkan Kemenristekdikti. Bukankah dari situ ketahuan siapa Maha Guru kita yang produktif dan berkualitas? Kok ada Maha Guru dengan jumlah publikasi dibawah 10, lha selama ini kenaikan jenjang jabatan fungsionalnya menggunakan apa?

Janganlah nila setitik, rusak susu sebelanga. Sudahlah, biarlah super moon blue yang menjawabnya. Sebagai akademisi memang sejatinya jauh dari hiruk-pikuk dan sorot kamera, menempuh jalan sunyi yang hanya berteman kata-kata. Jika sibuk cari panggung dan sorot kamera, itu namanya artis. Vivat Academia! Vivant Professores! jangan lupa ngopi biar tetap waras.

Image courtesy of Rochmady | SCofCI Indonesia

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)