Lokasi restoking kima di Kepulauan Spermonde berhasil dipetakan

[Riset] Kima merupakan salah satu spesies komoditas perikanan ekonomis penting. Diketahui kima mengandung komposisi nilai gizi tinggi, yakni mengandung protein sebesar 13,53 – 13,89%, lemak 0,34 – 1,34%, karbohidrat 0,21 – 3,68% dari bobot tubuh (Lucas, 1994). Kandungan gizi tersebut berdampak pada tingginya permintaan kima di pasar domestik maupun internasional (faktor ekonomi), sehingga berdampak pada eksploitasi kima secara tidak terkendali (Ambariyanto, 2007a).

Lebih lanjut dijelas-kan, selain penyakit, pemangsaan, kondisi lingkungan, pencemaran, dan faktor lainnya, diduga kuat pemanfaatan karena dorongan faktor ekonomi menjadi sebab utama tinggi-nya penangkapan kima di alam. Namun bagaimanapun, kombinasi dari keseluruhan faktor tersebut berakibat pada kelangkaan populasi kima. Sebagaimana dilaporkan pe-manfaatan kima secara tidak terkendali telah berdampak pada penurunan populasi kima di alam (Hamel et al., 2013; Emola et al., 2016).

Sejak tahun 1980-an, kima terus diburu nelayan dihampir seluruh wilayah Indonesia (Lucas, 1994; Lucas, 2003). Di Kepulauan Spermonde, pemanfaatan kima telah ber-langsung lama oleh nelayan lokal (Litaay et al., 2006; Susiana et al., 2014). Pemanfaatan tidak terkendali oleh nelayan telah berdam-pak pada kelangkaan populasi kima di alam (Niartiningsih et al., 2013). Saat ini, kima tergolong biota langka (Niartiningsih et al., 2013) dan merupakan jenis hewan laut yang dilindungi (Ambariyanto, 2010).

Kampanye perlindu-ngan kima terus dilakukan untuk mencegah tindakan pengambilan kima yang tidak memperhatikan kelestarian sum-berdaya. Tindakan perlindungan dilakukan dengan membatasi pemanfaatan sesuai ketentuan CITES Appendiks II (UNEP-WCMC, 2007; Nugroho dan Panggabean, 2008) dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan. Kebijakan tersebut secara gamblang mencantumkan ketujuh jenis kima sebagai organisme yang dilindungi.

Upaya pengelolaan kima terus dilakukan, diantaranya melalui pengalihan pemanfaatan dari alam ke arah pengem-bangan teknologi budidaya (Panggabean, 1992; Niartiningsih et al., 2008), maupun teknologi budidaya kurungan (Hamel et al., 2013). Upaya lain yang telah dilakukan adalah perbaikan mutu benih melalui persilangan induk yang mengarah pada konservasi sumberdaya (Niartiningsih et al., 2014). Selain itu, telah dirintis upaya konservasi melalui restoking (Emola et al., 2016). Ber-bagai upaya tersebut diharapkan membuka jalan baru bagi kelestarian sumberdaya kima di alam.

Upaya mendukung restoking kima tersebut, pada tahap awal diperlukan infor-masi tentang lokasi yang sesuai bagi kehidupan kima (Ambariyanto, 2010). Menentukan lokasi dimaksud didasarkan pada parameter biologi, fisika, dan kimia perairan. Pengetahuan kesesuaian lokasi bagi kehidup-an kima diharapkan menjadi suatu kawasan restoking bagi kima. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses pemulihan habitat, mempertahankan dan meningkatkan populasi kima, serta melindungi proses-proses ekologi serta pemanfaatannya secara optimal. Sehubungan dengan itu, penelitian ilmiah mengenai penentuan lokasi yang sesuai bagi restoking kima menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian betujuan untuk meng-analisis kesesuaian lokasi restoking ber-dasarkan kesesuaian kualitas perairan di Kepulauan Spermonde guna memberikan informasi awal tentang kesesuaian lokasi perairan bagi upaya restoking kima.

Baca juga:  Payung Hukum, Dilema Pembangunan dan Lingkungan (2-habis)

Upaya perlindungan kima dari kepunahan salah satunya melalui konservasi, yaitu menetapkan suatu, wilayah sebagai kawasan restoking. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lingkungan dengan kepadatan kima di perairan. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2013-Januari 2014. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode sampling bertujuan pada area middle inner zone = MIZ, middle outer zone = MOZ, dan outer zone = OZ di perairan Kepulauan Spermonde. Penelitian dilakukan dengan metode observasi terhadap paramater biologi, fisika, dan kimia pada mintakat reef flat, reef slope, dan reef base. Analisis data kesesuaian lokasi restoking kima menggunakan metode WSM dan analisis korelasi untuk mengetahui kepadatan kima dengan parameter kualitas perairan, hasil analisis diintegrasikan dengan Citra ALOS Avnir-2.

Hasil penelitian menunjukkan kepadatan kima dipengaruhi parameter lingkungan fisika utamanya salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Kesesuaian lokasi restoking kima untuk kelas Sangat Sesuai di P. Langkadea dan P. Pala (MOZ), P. Cangke (OZ), P. Tambakulu dan P. Kondongbali (OZ) pada mintakat reef flat. Kelas Sangat Sesuai pada mintakat reef slope di P. Kondongbali dan P. Kapoposang (OZ). Kelas Sesuai pada mintakat reef flat, terdapat di P. Podang Podang Lompo (MOZ), P. Sarappo Keke (OZ) dan P. Kapoposang (OZ). Kelas Sesuai pada mintakat reef slope di P. Langkadea (MOZ) dan P. Sarappo Keke (OZ). Penetapan kawasan restoking kima di alam perlu mempertimbangkan kesesuaian lokasi, utamanya kualitas fisika perairan.
——-
Kata kunci: konservasi, kima, weight sum model, citra ALOS Avnir-2
——-
Identitas artikel:
Judul artikel: Suitability of location for restocking clams Tridacnidae in the Spermonde Archipelago.
Penulis: Susiana, Andi Niartiningsih, Muh. Anshar Amran, Rochmady
Tahun terbit: 2017
Volume: 9 Edisi 2
Halaman: 475-490

Artikel dapat juga dibaca di SINI.

Pengutipan:

Susiana, Andi Niartiningsih, Muh. Anshar Amran, Rochmady. 2017.Suitability of location for restocking clams Tridacnidae in the Spermonde Archipelago. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 9(2): 475-490 DOI: http://dx.doi.org/10.29244/jitkt.v9i2.19284

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)