Menyibak Jati Diri Raja Muna I

la-ode-wuna.jpg.jpg
Ilustrasi La Ode Wuna (Foto by Anonim)

Menelusuri jejak kejadian lampau, sama maknanya dengan menelusuri jejak diri sendiri. Pada akhirnya tidaklah menemukan siapa-siapa kecuali DIRI SENDIRI.

***

UDHANY.WEB.ID – Sudah sejak lama, saya terkagum-kagum mendengar penuturan para Tokoh Adat maupun Tokoh Agama tentang sejarah Raja Muna I, Baizul Zamani atau La Elly yang lebih dikenal dengan Gelaran Bheteno Ne Tombu Laa. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sejak tahun 2009 silam saya semakin penasaran untuk mengenalnya lebih jauh. Dalam usaha mengobati rasa penasaranku itu, saya menjumpai beberapa tulisan yang saya anggap “memadai” untuk mengurai sepintas sejarah Kerajaan Muna, terlebih sejarah Raja Muna I.

Harus saya akui, bahwa informasi tentang sejarah Kerajaan Muna bahkan tokoh-tokoh dan konteks sosialnya tidak ada yang ditulis. Informasi dan sejarah Kerajaan Muna lampau terpelihara hanya dalam kisah tradisi lisan hingga generasi hari ini. Rangkaian informasi sejarah itu tampak hanya “milik” tokoh-tokoh adat, agama yang seolah sudah final dan tidak bisa lagi kita cermati terlebih dikritisi demi untuk mengenal sejarah dan kebudayaan Muna. Akibatnya, sejarah cenderung menjadi “Mitos”. Yah karena hanya berdasar pada kisah dan pengakuan sepihak, tak bisa dikonfrontir. Pamali katanya. Tak terkecuali sejarah Baizul Zamani (Bheteno Ne Tombu Laa).

Usaha penelusuran, memperlihatkan panorama ulasan berisi satu kisah yang cenderung “seragam”. Boleh dikatakan seluruh informasi sejarah tersebut sama persis, sehingga boleh jadi sumbernya sama hanya disampaikan kembali oleh orang yang berbeda-beda. Tak percaya? Googling aja..

Seolah sedang menelusuri jejak anak sungai yang tak bercabang atau berkelok, alias lurus-lurus saja. “Bheteno Ne Tombula” telah dimaklumi secara umum, dimaknai sebagai Manusia yang muncul dari “bilah atau rumpun bambu”. Ajaib, mistis, ghaib dan menakjubkan. Luar biasa sekali peristiwa tersebut.

Tapi, mari kita coba menilik kejadian, peristiwa dan konteks sosial masyarakat ketika itu. Ini menjadi begitu “aneh” bagi saya. Peristiwa penciptaan manusia melalui sebuah bilah bambu tidaklah patut dipuja keajaibanya. Karena sejarah mencatat peristiwa penciptaan Adam AS, Isa AS dan peristiwa kenabian lainnya. Hal ini haruslah menjadi pegangan kita khususnya sebagai Muslim, bahwa struktur, sifat, mekanisme dan tujuan penciptaan merupakan hak prerogatif Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau memasukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali-Imran : 27).

Untuk itulah, uraian sejarah Raja Muna I, Baizul Zamani yang berasal dari sebuah bilah bambu perlu mendapat perhatian cukup serius, agar terang kebenaran faktual dari kisah yang tergolong buram, awam, ghaib, mistis dan menakjubkan itu.

Bermodalkan pandangan Datuk Ibrahim Tan Malaka dalam Madilog-nya, mengisyaratkan bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu yang ghaib di alam kebendaan ini, apa yang ghaib hari ini besok akan diketahui kebenarannya.

Berpangkal cara pandang Madilog-nya Tan Malaka di atas, maka peristiwa “Bheteno Ne Tombu Laa” boleh jadi tidaklah ghaib atau magis sebagaimana yang banyak dikisahkan. Jikapun ghaib, mistis, maka pemaknaan yang hanya pada peristiwa ghaibnya atau magisnya saja tanpa penjelasan apapun atas peristiwa itu menjadi tak bermakna alias melompong. Hal ini terlihat seperti penggambaran Baizul Zamani sebagai orang yang datang di pulau Muna melalui alam ghaib dengan bersembunyi dalam sebuah rumpun (bilah) bambu. Mari kita asumsikan bahwa hal ini benar dalam sudut pandang yang seperti itu. Dalam kesempatan ini saya ingin menawarkan satu soalan baru, bahwa boleh jadi Baizul Zamani adalah manusia seperti kita yang kedatangannya melalui kita, kondisinya untuk kita dan tujuannya untuk kita semua.

Memaknai Ungkapan Kata
Sebelum lebih jauh, mari kita lihat dua kalimat gelaran berikut ini, yakni “Bheteno Ne Tombula” dan “Bheteno Ne Tombu Laa”. Jika diuraikan akar kata dari kedua kalimat tersebut, tentu memiliki makna yang berbeda pula.

Makna Kata Pertama, jika merujuk pada Kamus Muna-Indonesia-Inggris karya La Ode Sidu dan Rene van den Berg; “Bhete“-bermakna muncul, timbul, terbit, tembus, “Bheteno” mendapat imbuhan “no“-bermakna sesuatu yang muncul, timbul, terbit, tembus. Sedang “Tombula“-bermakna sejenis bambu. Sehingga “Bheteno Ne Tombula“-bermakna susuatu yang muncul dari belah bambu atau batang bambu atau rumpun bambu. Syahdan.. Jika penafsiran “Bheteno Ne Tombula” merujuk pada akar-akar kata tersebut, maka apa yang dipahami selama ini menjadi lumrah. Pada pandangan makna pertama tersebut, tertutuplah pandangan bahwa Baizul Zamani bukanlah sosok manusia ghaib seperti ungkapan yang selama ini kita terima. Jika hal ini dipegang, maka tidak ada hubungan dengan bentangan sejarah yang akan saya uraikan setelah ini.

Makna Kata Kedua, mari kita lihat dalam sudut pandang lain. Dalam kamus yang sama, kita memisahkan kata “Tombula” menjadi “Tombu” dan “Laa” sehingga menjadi “Bheteno Ne Tombu Laa” (perhatikan baik-baik susunan katanya), sebagaimana uraian makna kata pada pandangan pertama di atas. Kata “Bheteno Ne“-bermakna sama yakni sesuatu yang muncul, timbul, terbit dari (-). Kata “Tombu” bermakna kelompok atau masyarakat, wilayah, lingkungan, daerah. Sedang kata “Laa” bermakna “lurus“. Dalam kalimat utuh, “Bheteno Ne Tombu Laa” bermakna sesuatu yang muncul dari masyarakat, daerah, wilayah, lingkungan yang lurus. Untuk memastikan, silahkan anda periksa akar-akar kata ini dengan panduan Kamus Muna-Indonesia-Inggris tersebut.

Jika dicermati kedua susunan kata-katanya, maka “Bheteno Ne Tombula” dan “Bheteno Ne Tombu Laa” memiliki konsekwensi penafsiran dan pemaknaan yang berbeda pula.

Pertama, peristiwa pengangkatan Baizul Zamani sebagai Raja Muna I, boleh jadi bukanlah didasarkan atas peristiwa ghaib, mistik sebagaimana yang dipahami selama ini. Melainkan didasarkan pada ketinggian budi, moral, perilaku, ucapan, pemikiran yang melampaui zamannya.

Kedua, oleh karena itu, maka makna kata kedua menggugurkan makna kata pertama, sehingga perlu suatu rekonstruksi baru atas kronologi peristiwa sejarah ditemukannya Baizul Zamani dalam rumpun bambu tersebut, kemudian dibawa menuju “Lambu Balano” di Kalogha dan peristiwa-peristiwa setelahnya. Mengapa? Karena Makna kata Baizul Zamani dan Lambu Balano juga memiliki kedekatan makna. Lambu Balano bermakna rumah besar, sedang Baizul Zamani bermakna Rumah Zaman (Kehidupan).

Ketiga, oleh karena seluruh peristiwa kemunculan Baizul Zamani hadir bukan sebagai mitos, apalagi takhyul melainkan sebagai sejarah yang bisa ditelusuri seluruh fakta-fakta empiriknya. Untuk itu, setiap pandangan takhyul, mitos, gaib mesti dimusnahkan untuk segera digantikan dengan penelusuran lebih mendalam dan memadai untuk menilik sejarah diri Baizul Zamani sendiri.

Keempat, dengan bersihnya pandangan sejarah Baizul Zamani dari anasir-anasir takhyul itu, generasi mendatang bisa dan akan jauh lebih mengenal leluhurnya dengan suatu pandangan baru yang lebih luas dan mencerahkan kehidupan masa depan mereka.

Dengan dasar makna yang kedua di atas, membawa saya bertemu beberapa artikel yang cukup penting untuk kembali dicermati bersama.

Fakta Baru, Pandangan Baru
Pertama, artikel yang mengupas Buku Tambaga yang telah lama berada di Istana Keraton Kesultanan Buton berjudul “Assajaru Huliqa Daarul Bathiny Wa Daarul Munajat” yang diurai oleh saudara Laode Tanzilylu dan disadur oleh Asis dalam artikel yang berjudul “Hakekat dan Rahasia Asal Kejadian Negeri Buton“. Artikel tersebut mengurai sejarah panjang yang membentang dari peristiwa tahun ke-3 Hijriah (624 M) hingga sampai pada penemuan daratan Buton dan Muna (kurang lebih 1430 tahun silam).

Kedua, artikel yang mengupas tentang sejarah Buton yang ditulis oleh saudara Sabir. Artikel tersebut membentangkan sejarah masuknya Islam di Buton sejak tahun 815 H/1412 M yang dibawa oleh Sayid Jamaluddin Al-qubra dan perkembangan Islam selanjutnya di Kerajaan Buton atas kedatangan ulama berikutnya yakni Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sekitar tahun 948 H/1538 M untuk mengislamkan Lakilaponto sebagai Sultan Murhum dengan Gelaran Sultan Qaimuddin Khalifatul Ghamis.

Hal senada disampaikan oleh Muh Luthfi Malik dalam bukunya Islam dalam Budaya Muna. Luthfi Malik mengatakan bahwa kedatangan Syaikh Abdul Wahid merupakan periode pertama syiar Islam di tanah Muna. Dalam kertas kerja yang disampaikan oleh Prof. La Niampe ketika Simposium Pernaskahan Sejarah Islam di beberapa Kesultanan Nusantara bertempat di Propinsi Riau mengungkap periode sejarah syiar Islam pertama kali oleh Sayid Jamaluddin Al-qubra sebagaimana dikutip oleh saudara Sabir di atas.

Saudara Muh. Luthfi Malik dalam “Islam Dalam Budaya Muna; Suatu Ikhtiar Menatap Masa Depan” justru seolah bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh beberapa penulis di atas, akan tetapi memiliki nilai tersendiri. Menariknya pula, buku Luthfi Malik ini diberi pengantar yang cukup provokatif oleh bapak Drs. M. Idris Bolopari dengan judul Islam Dalam Budaya Muna Melihat Masa Lalu dan Menatap Masa Depan, yang juga menyebut kedatangan ulama Syaikh Abdul Wahid, atau yang lebih dikenal sebagai Sayid Arab yang dalam bahasa Muna-nya sering disebut Saidji Rabaa (catatan; banyak pemaknaan terhadap sebutan tersebut, ada yang mengaitkanya dengan media syiar Islam menggunakan rebana sehingga disebut Sayid Rabaa atau Rebana) sebagai ulama pertama yang datang di Muna.

Ketiga, artikel yang berjudul “Asal Mula Terjadinya Pulau Buton” yang ditulis oleh saudara Ali Habiu yang membentangkan peristiwa terbentuknya pulau Buton berdasarkan risalah RabbiKU Nomor:0,1,2,3 “Onemillion Phenomena” oleh Fahmi Basya, edisi Syawal 1404 H atau 1983 M. Dalam risalah tersebut mengisahkan asal mula terjadinya pulau Buton adalah akibat dari pergerakan lempeng kulit bumi poros Ka’bah-Thuur. Dataran Arabia adalah merupakan kecepatan awal pergerakan kulit bumi mengarah ke Timur Laut Sulawesi. Pulau Sulawesi diambil sebagai standar, mengingat Sulawesi berada ditengah-tengah antara Makkah (dataran Arab) dengan pulau Toamoto (dalam al-qur’an disebut Thuur) yang berada di laut Pasifik Selatan 180 derajat dari Ka’bah. Dan tepatnya adalah sekitar pulau Buton di Sulawesi Tenggara.

Fahmi Basya menguraikan lebih lanjut, bahwa kecepatan awal pergeseran lempeng hanya sama pada radius-radius yang sama, sehingga kecepatan awal terbesar terdapat pada daerah Equator ketika Ka’bah-Thuur sebagai sumbu bumi. Semakin dekat pada kedua kutub, gerak sisa akan semakin kecil. Oleh sebab itu, di Pasifik cenderung untuk menjadi satu lempeng Tektonik yang berputar dengan pusat Toamoto. Demikian juga lempeng Tektonik Arabia cenderung untuk berputar ditempat dengan pusat Ka’bah, sehingga ia menyebabkan Laut Kaspia bertambah besar. Sedangkan gerak lempeng Tektonik Pasifik menyebabkan danau-danau di San Fransisco seperti permen karet ditarik, karena lempeng Amerika telah berada di atas lempeng Tektonik Pasifik.

Perlu diketahui bahwa besar kecepatan tujuan dan arahnya berbeda-beda sesuai dengan seperangkat kecepatan akhir dan kecepatan awal serta arahnya. Sehingga dipermukaan bumi berbagai kecepatan gerak lempeng tektonik yang saling menjauh, saling mendekat, saling bergeseran hingga membentuk gunung, bukit, daerah retak, lembah, danau dan lain-lain. Pada daerah sekitar Sulawesi, gaya kecepatan awal dan kecepatan tujuan itu terlihat jelas. Akibat kecepatan tujuan, Sulawesi bergerak menjauhi tenggara. Bentuk pulau inipun masih memperlihatkan bentuk bongkok akibat dari menjauhi pulau Buton. Buton berasal dari bahasa Arab “Buthuun” yang berarti “Perut-Perut“. Kalau pulau Buton ini diistilahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai “Al-Bathniy” atau “huruf Mim” pada pusat (perut) manusia.

Baca juga:  Sajak Metafora Cinta | Madhy Kheken

Dalam Peta laut Kaspia di Arabia, bila kita membuka peta bumi, cobalah perhatikan laut Kaspia di dataran Arabia, relief dan struktur morfologisnya hampir sama dengan pulau Buton. Oleh karena itu, apakah secara ilmiah memang ada hubungan geologis antara pulau Buton dengan Laut Kaspia yang terdapat di dataran Arab? Para peneliti geologi dari Guelph University Toronto Canada sekitar tahun 1993 lalu telah melakukan penelitian struktur batuan yang terdapat di pulau Buton. Hasil penelitian disimpulkan bahwa struktur batuan pulau Buton sama dengan yang terdapat di dataran Arab dengan usia sekitar 138 juta tahun. Masih diperlukan studi lebih lanjut oleh para ilmuwan untuk menguak tabir ini sehingga Bangsa Arab tau bahwa ada bagian mereka yang hilang dan yang hilang itu ada di pulau Buton. Demikian pula untuk pulau Muna, reliefnya hampir sama dengan Laut Hitam dan usia batuannya diperkirakan 143 juta tahun lebih tua dari pulau Buton.

Keempat, kertas kerja yang disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Ahli-Ahli Geologi di Universitas Hasanuddin tahun 2005 lalu, memperlihatkan pola pergeseran lempeng Asia Pacifik yang dikeluarkan oleh NASA, jelas menunjukkan bahwa pusat pergeseran lempeng berada di wilayah nusantara dengan pusatnya berada di Pulau Muna dan Buton. Hal ini seolah menguatkan pandangan Fahmi Basya di atas.

Bentangan fakta geologis di atas, kuat dugaan adanya keterkaitan dan menjadi landasan pandangan baru kami tentang status dan sejarah eksistensi Pulau Buton dan Muna. Hal ini menjadi kuatnya pembenaran terhadap kertas kerja yang disampaikan oleh Laode Tanzilylu berkenaan dengan peristiwa dentuman besar kemunculan Pulau Muna dan Buton sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Tambaga tersebut.

Berdasarkan uraian kisah kitab tersebut, kami memberi catatan penting bahwa Rasulullah menyebut kedua Pulau (Negeri) yang akan ditemukan menjadi “rahasia” kenabian beliau. Tak ingin berpsekulasi terlalu jauh, namun kami menduga bahwa Baizul Zamani merupakan bagian penting dari silsilah Nabi Muhammad SAW sebab tanah pijakan kita hari ini merupakan bagian dari tanah Lembah Arabia tempat kelahiran Manusia Agung, Rasulullah Muhammad SAW. Untuk menguraikan pendapat tersebut, kita bentangkan peristiwa yang tersebut dalam uraian singkat Kitab Tambaga, agar kita semua sama maklumi.

Rahasia Kenabian
Diceritakan bahwa mula-mula ketika Rasulullah Muhammad SAW selesai shalat fardu subuh berjamaah bersama para sahabat dan pengikut dari kaum Muhajirin dan Ansyar di Mesjid Quba Madinah, seperti biasa Rasulullah SAW berkhutbah dihadapan majelis. Tiba-tiba saja terdengar dentuman yang dahsyat sebanyak 3 kali. Mendengar dentuman itu, para sahabat bertanya, “ya Rasulullah gerangan apakah dentuman tadi?“. Rasulullah menjawab bahwa “Jauh dari sebelah timur Arabia telah muncul sebongkah tanah dari laut untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Setelah tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah barulah mengutus dua orang bersaudara dari Bani Hasyim untuk menemukan “kedua negeri (pulau)” dimaksud. Mereka adalah Abdul Gafur (ahli biologi) dan Abdul Syukur (ahli Antropologi). Dua utusan ini diputuskan dalam sebuah majelis musyawarah yang dihadiri Ali bin Abi-Thalib bersama istrinya Fatimah az-Zahra serta kerabat lainnya. Hasil pertemuan itu dipesankan oleh Rasulullah agar tak disiarkan karena menyangkut ilmu nabi bukan ilmu rasul.

Sebelum diberangkatkan, Rasulullah berpesan, “Bawalah kedua bendera ini dan pasanglah pada tiap-tiap negeri yang saudara-saudara jumpai. Adalah bukti yang menunjukkan bahwa kedua negeri itu adalah penemuanku. Perlu saudara-saudara sama maklumi bahwa hakekat dan rahasia isi hatiku pada kedua negeri dimaksud sangat erat dengan keadaanku, baik dalam bathinia maupun lahiriah. Dan ini adalah salah satu titipan sepeninggalku pada saudara-saudara sebagai pusaka dariku untuk diwariskan kepada generasi penerus yang menjadi penghuni kedua negeri tersebut. Karena dari Mekah, Madinah dan kedua negeri yang kusesuaikan dengan susunan rangkaian huruf namaku Muhammad yang empat hurufnya akan kujadikan pula menjadi hakekat rahasia yang terkandung dalam tiap-tiap huruf namaku menjadi keempat negeri yang dimaksud, yakni Mekkah, Madinah dan kedua negeri yang akan dicari oleh saudara-saudara utusanku.

Kemudian Rasulullah bersabda; “Mekkah itu kutamsil ibarat kepalaku dan makam hakekatnya dikandung huruf MIM awal dari rangkaian namaku Muhammad. Dan Madinah ini kutamsil ibarat badanku dan makam hakekatnya dikandung hurud HA dari rangkaian huruf namaku Muhammad. Dan tanah yang mula-mula dijumpai oleh saudara-saudara utusanku kutamsil ibarat perutku dan kunamai Bathniy (Bathnun) yang artinya perutku. Sebagaimana yang tersebut pada hakekat dikandung huruf MIM kedua dari rangkaian huruf namaku Muhammad. Sedang tanah yang terakhir dijumpai oleh kedua utusanku adalah kutamsil ibaratkan kedua belah kakiku yakni Rijalaan (Rijulun) artinya kedua belah kakiku, dan hakekatnya dikandung huruf DAL dari rangkaian huruf namaku Muhammad dan kunamai dia Munajat (tujuan).” Kemudian Rasulullah bersabda lagi, “Menurut hakekat rahasia keyakinan hatiku, kedua negeri tersebut kunamai dia masing-masing BATHNIY dan RIJALAANI.

Kedua utusan itu berangkat, mereka tidak langsung menemukan kedua negeri dimaksud sebagaimana yang diwasiatkan, tetapi Abdul Ghafur dan Abdul Syukur mengembara ke beberapa negeri seperti Johor, Pasai, Cina dan masih banyak lagi negeri yang dilewati, akan tetapi tidak diceritakan kedua utusan tersebut dengan menghabiskan waktu ±60 tahun.
Penemuan kedua negeri tersebut, mengenal asal mula terjadinya negeri Buton dan Muna yang bertepatan dengan malam Nisif Sya’ban yakni 15 malam bulan, dimana malam itu bertepatan dengan 60 tahun wafatnya Rasulullah SAW, kira-kira memasuki abad ke-7, saat itulah mereka menemukan daratan yang belum berpenghuni manusia. Bukti-bukti penemuan itu seperti adanya kampung BATHA GAFURA yang dalam pemaknaan kita diartikan sebagai Pasir Gafur telah menjadi sebuah nama kecamatan Batauga. Serta adanya kampung atau desa Masiri sebagai tamsil atas sebuah prasasti yang ditulis oleh Abdul Gafur yang berbunyi MASYIRA, serta beberapa bukti lainya.

Setelah penemuan daratan Buton, maka kedua utusan ini melihat daratan disebelahnya. Mereka melakukan pemeriksaan dan menemukan adanya batu berbentuk pohon sehingga tempat itu dinamai SIRATUL HIJIR artinya Pohon Batu. Dibentangkanlah bendera seperti pada negeri Buton di tebing dekat pohon batu tersebut (kini dekat mesjid Muna lama) dengan menamai negeri itu MUNAJAT yang sekarang disebut Muna yang maksudnya adalah isi kandungan hakekat rahasia Mina kota Arab Lama. Menurut penuturannya, negeri Munajat berasal dari pecahan kabut atau FILIYIN yang telah pijar merupakan suatu batu Nuqthah adalah titik BAA yang penuh berkah dan merupakan salah satu iradat Allah SWT.

Renungan
Lalu, apa hubungan antara kisah terbentuknya pulau Muna dan Buton dengan Sejarah “Bheteno Ne Tombu Laa“? Sulit untuk mengatakan bahwa bentangan kisah rahasia diatas tidak ada kaitan, baik secara historis, geologis maupun spiritual.

Secara pribadi, saya lebih condong untuk mengatakan peristiwa tersebut di atas tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa “Bheteno Ne Tombu Laa” itu sendiri. Kuat dugaan saya, bahwa kejadian terbentuknya Pulau Muna dan Buton tidaklah murni hanya peristiwa kebumian yang terlepas dari peristiwa spiritual Bheteno Ne Tombu Laa dan kondisi sosial saat itu. Mungkin terkait erat pula dengan sejarah masuknya Islam di Muna itu sendiri. Seluruh rangkaian peristiwa ini tentu tidaklah berdiri sendiri-sendiri atau terpisah satu sama lain tanpa satu tujuan yang sama.

Dalam ulasan yang diutarakan oleh Muh. Luthfi Malik, kesan yang kami tangkap, beliau hanya melihat potongan-potongan peristiwa syiar Islam di daratan Muna-Buton pada periode sejarah tertentu dari Kerajaan Nusantara. Dimana pada periode awal syiar Islam dimulai ketika Abdul Wahid, kemudian Firus Muhammad dan terakhir Sayid Arab. Sementara itu, beberapa hasil penelitian terakhir, menunjukkan bukti-bukti kesamaan antara paham ke-Islaman di Kerajaan Muna dan Buton yang memegang teguh Ajaran Moral Islam Martabat Tujuh sebagaimana pula ajaran moral yang disiarkan oleh ulama Firus Muhammad menurut keyakinan Luthfi Malik. Hemat kami, bukti bahwa ajaran moral ini diketahui menjadi pegangan di Karajaan Lingga Riau dibawah pimpinan Raja Ali Haji dan dihampir seluruh wilayah Indonesia Timur bahkan Afrika telah mengamalkan ajaran Martabat Tujuh tersebut.

Terlepas dari itu semua, kami hanya ingin menegaskan bahwa “Bheteno Ne Tombu Laa” merupakan suatu gelaran yang diberikan oleh masyarakat lokal yang mendiami daratan Pulau Muna terhadap ketinggian Moral dari Baizul Zamani ketika itu. Gelaran itu, bukanlah merupakan persitiwa ghaib dan mistis semata. Harus pula diakui bahwa pada periode kesejarahan Islam, memang banyak tokoh-tokoh yang terlibat dalam syiar Islam diberbagai daerah/wilayah memiliki suatu karomah atau kelebihan. Dalam pandangan awam kita, dikenal dengan sebutan supernatural. Hal ini tidak menutup kemungkinan juga dimiliki oleh Baizul Zamani sehingga mampu bersembunyi di dalam sebuah batang bambu (Wallahu alam).

Suatu simpulan sederhana walau masih tergolong cepat, buru-buru dan rapuh. Namun demikian, simpulan ini berkonsekwensi melahirkan suatu bentuk tafsir baru atas sejarah “gelap” itu sebagai peristiwa normatif laiknya peristiwa kelahiran Rasulullah SAW di Makkah pada kondisi sosial yang rapuh, jahiliyah yang telah memunculkan beliau sebagai entitas manusia utuh, teladan, contoh, model dan mendapat gelaran “Al-amin” atau yang terpercaya. Bheteno Ne Tombu Laa boleh jadi mengambil bentuk yang hampir sama ataupun sama dalam maknanya. Yakni suatu entitas manusia yang utuh, teladan, model yang lahir dari kumpulan masyarakat yang lurus. Masyarakat yang lurus dimaksud seperti lurusnya sebatang bambu. Lurus perilakunya, lurus aqidahnya, lurus hatinya dan jauh lebih lagi adalah keturunan yang lurus merujuk pada silsilah Kenabian itu sendiri. (Wallahu alam bisawab).

Dari ungkapan melayu yang cukup populer, “…tiap-tiap sesuatu yang dirahasiakan akan membawa kenikmatan berlebih”. Boleh jadi keghaiban Raja Muna I, Baizul Zamani, Bheteno Ne Tombu Laa, alias La Elly “sengaja” agar kita berbahagia pada akhirnya setelah mengetahui ke-DIRI-an beliau. Untuk itu pentinglah upaya menapak jejak atas sejarah asal kejadian Raja Muna I, agar tak keliru, agar dimurnikannya pemahaman terhadap diri beliau. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan menjadi bahan kajian dan renungan kita semua. Amin. [SRM]

Catatan
Tulisan ini dibuat dari hasil diskusi panjang bersama Bapak Drs. M. Idris Bolopari dan Kanda Ir. Syahrun Giddin Nur. Tanpa pemikiran dan sumbangan literatur dari kalian tulisan ini juga tak rampung. Terima kasih banyak. Tulisan pernah dipublikasi di sini dengan beberapa perubahan.

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)