Siapa Baizul Zamani?

la-ode-wuna.jpg.jpg
Ilustrasi La Ode Wuna (Foto by Anonim)

Mengawinkan gagasan, agar lahir sejarah murni Bheteno Ne Tombu La yang kabur itu. Ibarat kita memerasnya, hingga yang tinggal hanya saripatinya, La Ilaha Ila Allah.

***

UDHANY.WEB.ID – Merujuk dari pandangan bahwa tiap-tiap yang lahir pasti ada ibu kandung dan ayah kandungnya. Serta dari dua kisah sebelumnya, yakni Kaum Saba dan Sulaiman yang boleh jadi jejaknya ada di Indonesia dan kisah Ki Gondot Mayit tentang Baginda Tercinta Rasulullah, serta jabaran apik Baizul Zamani tadi (saya menyebut ini sebagai bapak kandungnya-artinya sesuai dengan perkembangan tingkat pemahaman dan pemaknaan masyarakat ketika itu terhadap suatu peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk bahasa yang cenderung metaforik).

Kisah Baizul Zamani, secara internal tentu terkait erat dengan rujukan kedua, yakni merupakan bagian dari sejarah kerasulan yng sudah ada sejak manusia diciptakan (saya bisa menyebutnya sebagai ibu kandungnya). Jika merupakan bagian dari sejarah para Rasul yang tak terhitung jumlahnya itu, maka peristiwanya mesti bisa dijabarkan dengan rujukan Kitab-2 kuno dan Kitab Suci Agama.

Merujuk kitab-kitab kuno, peristiwa Bheteno Ne Tombu La belum ditemukan satu kitab yang menjelaskan urutan-urutan peristiwa terkait, sehingga jalan ini agak sulit digunakan. Jika merujuk pada Kitab Suci khususnya Al-quran, juga terdapat kesulitan sebab tak banyak ahli tafsir yang bisa menjelaskannya terlebih jika dikaitkan dgn peristiwa itu. Tetapi dengan segala kekurangan yng ada, kita sedang mencoba melakukanya.

PERTAMA,
Seperti yng pernah sy urai sebelumnya, bahwa jelas dikatakan dalam Al-Quran, telah kami utus pada tiap-tiap umat terdahulu untuk memberi peringatan kepada umatnya, menyuruh menyembah Allah dan menyampaikan kabar gembira tentang balasan yang akan didapatkan atas perbuatan baik didunia. Jika merujuk pada waktu kejadianya, maka kedatangan Baizul Zamani, bisa dipastikan setelah peristiwa kedatangan Sawerigadi. Hal ini terjadi karena Baizul Zamani diangkat menjadi “Pemimpin” ketika itu oleh masyarakat “wamelai” disebuah tempat (sy kurang tau nama tempatnya) kemudian dinobatkan di Lambu Balano.

KEDUA
Mari kita tilik penjuru uraian saya ini. Bagaimana jika kronologi peristiwa pelantikan itu hanya bermakna metaforik atau penggambaran saja dari makna sesungguhnya sebagaimana uraian saya sebelumnya tentang makna kata Bheteno Ne Tombu La itu sendiri. Jika boleh sy pinjam jabaran kita sebelumnya tentang “Baizul Zamani” yang bermakna rumah zaman, bukankah ini mirip maknanya dengan “Lambu Balano“. Jika di Indonesia-kan, Lambu Balano bermakna “rumah besar” bisa berarti “rumah zaman”. Kedua kata itu seolah memiliki pertalian makna yang logis dan terkait.

Mari kita tilik lebih jauh. Makna pertama yang kemungkinan yang dekat dalam pemaknaan katanya adalah; “rumah” bisa bermakna “tempat naungan”, sedang “balano” bermakna metafor tentang “sesuatu yang besar, luas, dan sebagainya dalam takaran yang lebih”. Jika makna kata itu merujuk pada peristiwa kemanusian dari Baizul Zamani sendiri, maka tentu terkait dengan suatu peristiwa besar. Peristiwa besar itu terkait erat dengan tiga hal yakni peristiwa kelahiran, kehidupan dan kematian. Artinya boleh jadi yang dirujuk dari kata “Lambu Balano” adalah tempat naungan peristiwa kelahiran, kehidupan dan kematian. Jika makna ini yng digunakan, maka makna kata Lambu Balano sesungguhnya Munanisasi aksara arab dari kata Baizul Zamani. Sebab bukankah kelahiran, kehidupan dan kematian itu adalah zamani itu sendiri?

Baca juga:  Sajak Waktu | Madhy Kheken

Makna lainya adalah, jika Lambu Balano merupakan fakta yng bermakna sesungguhnya. Maka semestinya jejak atau paling tidak bekas2 dari Lambu Balano mestinya tetap terpelihara, mengingat dekatnya dengan peristiwa Sawerigading yang mana jejak sejarah yakni kapal beliau masih bisa ditunjukkan dan digambarkan. Jika yng dimaksudkan dgn lambu balano adalah rumah adat Muna sebagaimana yang dikenal selama ini, tentu tidaklah merepresentasikan Lambu Balano.

KETIGA
Jika pemaknaan Baizul Zamani dan Lambu Balano ditafsir simbolik atas realitas abstrak atau seperti pada poin Kedua yng sy sampaikan (metafor), maka makna kata-kata Bheteno Ne Tombu La, Baizul Zamani dan Lambu Balano memiliki keterkaitan dan cenderung dekat maknanya. Mari kita lihat (sebagaimana sy singgung sebagai bapak kandungnya).

Jika dicermati lebih mendalam, Bheteno Ne Tombu La adalah sebuah metafora yang merujuk pada prinsip-prinsip dan sifat-sifat Terpuji, Agung, Mulia, Suri Tauladan. Prinsip dan sifat itu mewakili suatu keinginan agung dari suatu masyarakat. Melihat satu pribadi yng seolah mewakili semua. Hal ini menjadi terkait dengan sebutan Baizul Zamani yakni rumah zaman. Bahwa prinsip-prinsip dan sifat-sifat Terpuji, Agung, Mulia, Suri Tauladan merupakan sesuatu yang belaku (bermakna segala tempat dan waktu) umum disegala zaman. Sehingga persis seperti rumah yang agung, yang tinggi, yang menjadi cita-cita setiap orang. Dan rumah zaman itulah sebuah rumah yang besar. Di dalamnya peritiwa kelahiran, kehidupan dan kematian berlaku.

Catatan;
Sy perlu memberi catatan atas ini, sebab makna kematian dalam QS Al-Imran : 27, bahwa yang mati dikeluarkan dari yang hidup dan yang hidup dikeluarkan dari yang mati. (Perlu kajian tersendiri, sebab dalam tradisi Muna Buton, dikenal atau percaya dgn kehidupan “reinkarnasi” atau kelahiran kembali. Ini dikenal dengan istilah “Siwuluno Wu“).

Baizul Zamani atau Bheteno Ne Tombu La dan Lambu Balano, memiliki makna abstrak dan cenderung metaforik tetapi dekat dan saling terkait. Pemaknaan saya bahwa semua sebutan itu hanyalah suatu rujukan untuk menyebut sifat-sifat Terpuji, Agung, Mulia, Suri Tauladan yang tentu orang yang dimaksud berasal dari keturunan Kenabian pula sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Kitab Suci.  Makna lainya berdasar rujukan QS Al-imran bahwa tuhan memberi berkah kepada siapa yng dikendaki. Beteno Ne Tombu La boleh jadi bukan dari keturunan langsung dalam arti sesungguhnya, tetapi keturunan sifat-sifat Terpuji, Agung, Mulia, Suri Tauladan itu.

Wallahu alam bisawab. [SR]

Catatan: Pernah diterbitkan Koran Bau-Bau Pos dan diposting pada Catatan akun Facebook Rochmady

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)