Hidup adalah Karya

1374932_1006620956068988_4743457112266503322_n
Sumber foto : Twit @MataNajwa

udhany.web.id  Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Bagi saya, hidup adalah pelaksanaan kata-kata. Bagi seniman, barangkali hidup adalah menembus batas angan seperti kata Ebiet G. Ade. Menembus batas imajinasi bahkan logika. Bahkan dengannya, gerakan dapat berubah menjadi tarian. Wajah berubah menjadi lukisan. Suara berubah menjadi nada.

Bagi dia segalanya adalah nyanyian. Lihat saja, mungkin terhitung jari penyanyi dengan talenta sekaligus pencipta lagu yang mampu bertahan di tiga generasi. Dengan karakter, talenta musik khas yang dimilikinya, mampu mengantarnya melewati berbagai kepahitan hidup. Asam garam di dunia musik tak bisa diragukan lagi telah dikunyah habis olehnya.

Tapi di usianya yang terbilang tidak tua itu justru dia malah lebih paham makna nasionalisme. Saya bahkan memikirkan, buku apa yang telah dibacanya. Kelompok kajian mana yang telah mengasah intelektualitas dan nuraninya? Apakah dia pernah khatam karya-karya Tan Malaka semisal Naar De Republik Indonesia atau Madilog yang mashur itu. Atau mungkin Dari Penjara Ke Penjara. Atau mungkin karya J.S. Mill semisal On Liberty?

Kehadirannya di Mata Najwa malam ini rasanya telah menjewer telingaku. Betapa tidak, dia telah menghasilkan banyak karya. Hari-harinya diisi dengan menghibur banyak jiwa. Lagu lagunya bahkan dinyanyikan kembali manusia generasi lama dan baru di republik ini. Dia bahkan dimandat oleh Ir. Soekarno sebagai Penyanyi Istana. Dengan itu membuatnya amat dekat dengan kuasa. Bakatnya itupun mampu mengantarnya bernyanyi dihadapan pemimpin yang disegani ketika itu, Soeharto. Tapi bukan itu yang membuatnya bertahan hingga kini. Dia tetap bertahan dengan karya-karyanya. Dengan itu dia tidak hanya mengukir namanya diantara bintang-bintang melainkan mengukirnya menjadi ABADI, MELEGENDA.

Baca juga:  BELAJAR DARi KONTU UNTUK NIPA-NIPA; Refleksi Perebutan Lahan di Muna

Berbagai kritik, tuduhan bahkan fitnah tak dihiraukannya. Dia semata mata berfokus pada KARYA. KARYA dan KARYA. Barangkali ini adalah bahasa universal untuk mengabadi. Membisik pelan bahwa untuk abadi maka berkaryalah seperti juga semboyan pemerintah saat ini, KERJA KERJA KERJA. Ah saya menjadi makin paham bahwa mau berkarya ya bekerja, mau bekerja ya berkarya. Walaupun bagi sebagian saudara kita sibuk cari kerja, sibuk melamar kerja. Atau bahkan sibuk mengurus kerja orang lain, sementara mereka hampir hampir tak punya KARYA.

Jujur kehadiranmu pada usia 70an dengan pesona biduanita yang tak lekang zaman itu, semestinya kau isi dengan duduk tenang di rumahmu, menggendong cucu atau mungkin menikmati sisa hidup dari Tuhan. Tapi malah kau berpikir untuk generasi. Mengingatkan kami akan pesan-pesan leluhur tentang CINTA KASIH yang akhir akhir ini hanya tinggal slogan semata. Karya karyamu ABADI. Terimakasih untukmu para penyanyi dan kalian yang memilih mengabadikan diri untuk berkarya.

Terimakasih Sudarwati alias Titik Puspa

Raha, 30 Desember 2015. [SRM]

Image courtesy of Rochmady | SCofCI Indonesia

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)