SEUNTAI HIKMAH; Percaya dan Yakin

cropped-cropped-alim0342.jpg
Sumber : Anonim

Dalam beberapa hal aku mengira pandanganku soal ini bisa sedikit benar. Namun, seiring berjalannya waktu aku harus mengoreksi kembali apa yang aku yakini. Bahwa menikah muda, membawa kebahagiaan namun tidak untuk bagi yang mudah menikah.

Uraian artikel (1) ini seakan mengajak berdiskusi lebih dalam tentang topik yang begitu sensitif ini; menikah muda. Lagipula bukan semata karena itu, kesadaran akan menikah terlebih di usia muda, kembali muncul dan menguat ketika bertemu sejawat di Kendari beberapa pekan lalu (Maret 2015).

Secara terbuka, teman sejawat itu menantang saya. Dia sengaja menyulut api diskusi haibat. Dia hendak menerkam cara berpikirku untuk membuktikan, menunjukkan dengan nalar yang bersih, jujur tentang perbedaan mendasar antara keyakinan dan kepercayaan utamanya dalam hal nikah lebih spesifik lagi ya menikah diusia muda.

Anda mungkin bisa percaya sepenuhnya, dan itu wajar wajar saja jika sekiranya bertemu seseorang yang memberi pengakuan diri sebagai ahli. Dan andai pula si manusia misterius ini membuktikan keahliannya dengan seabrek sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kredibel. Dari segi formal scientific, bahkan formal organize, tentu wajar saya atau anda ikut mengangkat topi sebagai tanda hormat pengakuan akan keahlian yang dimilikinya. Yang seperti ini merupakan hal biasa dan bahkan sering terjadi dalam kehidupan sehari hari. Itu disebut PERCAYA.

Namun kepercayaan yang semacam itu, hanyalah sebatas mengaminkan atas penilaian dan justifikasi pihak atau orang lain. Bagi mereka yang yakin, seabrek sertifikat bahkan dari lembaga kredibel apapun sama sekali tidak memiliki makna apa-apa jika tak berani masuk, bergelut dalam kepercayaan itu. Menguji secara langsung apa yang menjadi kepercayaan pihak atau orang lain sebagai bukti tambahan yang tentu membuat anda yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

Contoh saja, jika saja yang datang membawa seabrek sertifikat itu adalah Ahli Menembak pada segala situasi. Sertifikat yang dimilikinya telah membuktikan bahwa tembakanya tak pernah melesat sasaran. Selain itu, menunjukkan dukungan dari berbagai macam penghargaan atas prestasi yang dimiliki sehingga menjadi lengkap dan layak disebut sebagai Penembak Jitu. Pada tataran ini, itu artinya baru pada level percaya.

Baca juga:  Sajak Sebuah Nama | Madhy Kheken

Jika YAKIN, anda atau saya mestinya siap untuk menjadi bahan percobaan dengan menempatkan sebiji kelereng diatas kepala untuk dijadikan sasaran tembak. Dengan cara ini kita membalik teknik pembuktian. Bukan lagi si penembak yang patut membuktikan keahliannya, melainkan kitalah yang hendak membuktikan keahliannya dengan menggadaikan nyawa. Jika tembakanya tepat mengenai biji kelereng, itu artinya lulus lah kita dalam ujian keyakinan.

Bagaimana jika tidak kena sasaran?? Anda sudah siap?? Yah itulah tanda bagi mereka yang YAKIN. Menjadikan diri terlibat langsung dalam hukum hukum, prinsip prinsip yang kita percayai. Oleh karena bagaimana sekiranya yang ingin kita uji itu adalah keMaha Rahman dan Rahiman Allah, keMaha Pemberi Rezkian Allah, dan keMaha-keMahaan Allah yang lain.

Jika kita percaya bahwa pemberi rezeki itu adalah Allah, lalu mengapa kita masih ragu untuk melangkah? Jika kita percaya bahwa Allah Maha Pemelihara makhluknya, lalu mengapa masih juga ragu untuk mengambil keputusan? Sayangnya, terkadang bahkan terlampau sering anda terlebih saya, masih juga hanya sebatas Percaya akan kemurahan Sang Maha Pencipta.

Andai saja di dalam lipatan-lipatan hati yang paling dalam itu masih juga terselip ragu, sesungguhnya itu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita ini masih sebatas Percaya akan Kekuasaan Allah SWT. Jika YAKIN mestinya tak ada keraguan untuk bertindak. Itulah pula yang mestinya berlaku bagi kehidupan ini.

Salam Cinta 💕
Untukmu Matahariku ChyEra MadHy Chy Seira
Tetap Semangat 🆗

Sumber Acuan :

(1) [http://makassar.tribunnews.com/tag/tips/…]

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)