Dalam Kisruh, Anda Buntung Kami Untung

Foto by Anonim (Sumber : Google.com)
DALAM beberapa hari terakhir ini, terasa begitu derasnya informasi perihal KPK, Mobil Nasional, maupun Kepolisian. Untuk itu, cukuplah kiranya menjadi alasan mengatakan bahwa informasi yang berkembang telah membelah bangsa ini.

***
Merujuk para ahli komunikasi, juga politik, politik komunikasi, komunikasi politik dan entah sebutan apalagi, koor mereka berpendapat bahwa bangsa ini terbelah menjadi dua, yakni pro KPK dengan slogan #SaveKPK dan pro Kepolisian #SavePolri. Lain ahli mengatakan terdapat tiga kelompok utama. 
Pertama, kelompok pendukung KPK. Kedua, kelompok pendukung Kepolisian. Dan yang ketiga, kelompok penengah dengan slogan #SaveIndonesia. Namun, tunggu dulu. Pendapat saya, Kita tidak terbelah dalam dua atau tiga bagian. Melainkan terbelah lebih dari beberapa bagian itu. Saya ingin menyebut bagian itu sebagai kelompok. Tegasnya sebagai kelompok kepentingan.  Pada kesempatan ini saya mengajukan satu kelompok untuk dipertimbangkan, yakni Kelompok Pemanfaat. Kelompok Pemanfaat itulah, hemat kami telah membuat runyam dan semakin eloknya ketegangan akhir-akhir ini. Bukan sebagai tuduhan karena ini tentu kita akan berdebat panjang. Tapi cobalah anda lihat sendiri seluruh informasi saat ini. Apa yang anda rasakan? Asyik? Tegang? Mendamaikan? Silahkan tentukan sendiri.
Marilah kita lihat kelompok terakhir itu. Sebagai label yang saya berikan, tidak bermakna substansial melainkan hanya kategorial saja. Sebab tidak semua yang termasuk dalam kelompok itu, benar-benar mengambil manfaat. Tetapi bahwa mereka ikut menerima manfaat tentu tidak dapat dipungkiri. Jadi saya tegaskan bahwa pengambil dan penerima manfaat merupakan dua hal yang berbeda dan saya bedakan. Yang menjadi fokus kita adalah pengambil manfaat. Mengapa? Karena kepentingan mereka hanya satu, yakni mengambil manfaat sebanyak-banyaknya. Dan itu bisa manfaat ekonomi, politik, hukum, keamanan, sosial, dan lain sebagainya. Bahkan lebih ekstrim lagi, kelompok ini sangat mungkin sengaja menciptakan, mengarahkan, maupun memelihara kondisi ini hingga titik akhir yang tidak jelas.
Karena dorongan transparansi pelayanan publik, saat ini boleh dikatakan hampir semua lini pemerintahan dapat kita pelototi setiap saat. Dan wakil dari tugas itu, sepenuhnya kita percaya pada media elektronik maupun cetak serta NGO dan seluruh struktur dan perangkat yang mereka miliki. Sebut saja media televisi, cetak, radio dan on-line sengaja saya pisahkan dengan sosial media oleh karena memiliki bagian dan peran yang terpisah baik dari sisi struktur maupun fungsinya. Lihat, hampir setiap saat media televisi menyajikan berbagai informasi tentang hal ikhwal. Ini tidak kalah dengan media cetak. Hampir setiap hari halaman-halaman koran berisi kabar tentang hal ikhwal. Pun radio, terlebih media on-line. Informasi yang disajikan dapat saja kita katakan banjir dan tak terkontrol. 
Kebanjiran informasi ini tidak hanya berdampak positif bahkan dalam makna yang lebih ekstrim telah mengarahkan, membentuk bahkan menjadikan opini sebagai fakta. Ini bukan dalam kacamata benar dan salah terhadap tindakan pemberitaan mereka, utamanya media sosial. Sebab jika diurai lebih jauh, tentu terbuka lebar ruang perdebatan. Bukan pula kebenaran pemberitaannya, bukan bagaimana informasi itu digali dan disampaikan ke khalayak. Bukan itu. Lalu siapa yang menerima manfaat? 
Marilah kita lihat. Ada berapa banyak orang yang menggantungkan kehidupan ekonominya dari “mengobati” rasa penasaran publik. Mereka menghidupi dirinya, anak, istri dan seluruh keluarganya dengan bekerja sebagai awak media. Sebagai reporter, kameramen, pembawa acara, singkatnya seluruh struktur yang terlibat dalam proses tersajinya informasi. Ada yang dikantor-kantor percetakan, pengiriman, jasa desain, editing, layout, dan lain sebagainya. Tentu anda bisa membayangkan bagaimana besar dan banyaknya pihak yang terlibat dalam penyajian informasi itu. Terbayang pula bagaimana jadinya jika tidak ada yang bisa diberitakan. Pertanyaannya, dengan struktur besar itu yang melibatkan banyak orang dengan beragam keahlian, mereka mau hidup dengan apa? Karena itu, kondisi anomali, mengundang hiruk pikuk, ketidakjelasan, penyelewengan, korupsi, menjadi penting, dicari, dikejar bahkan jika mungkin diciptakan. Agar media dapat terus bergerak. Agar dapur terus mengepulkan asap.
Lalu siapa yang mengambil manfaat? Anda tentu memiliki pendapat sendiri bukan? Lihatlah, berapa media mainstream yang dijadikan rujukan. Seolah-olah informasi yang disajikan tak ubahnya sebagai sumber kebenaran. Saya tidak perlu menyebutnya. Ini menjadi tanda bahwa manfaat yang diperoleh dari industri pemberitaan bukan hanya sekedar ekonomi bukan? 
Setiap informasi yang disampaikan tidak lengkap jika tidak menampilkan informan. Dan pada sisi ini, industri informasi itu bersimbiosis secara paripurna dengan informan. Mereka sebagai pengamat, atau pelaku. Disinilah ruang penerima manfaat itu semakin lihai dan bertandang silang. Pengamat dan pelaku kadang saling sikat, rangkul, tikam bahkan bunuh dalam arti metaforik. Mereka bisa berjubah akademisi, politisi, praktisi, dan lain sebagainya. Bahkan lebih parah lagi, tak miliki kompetensi sekalipun tetap mencari panggung.
Diruang itulah menjadi tidak jelas alias blur siapa pengambil dan penerima manfaat. Tak butuh biaya besar, cukup dengan sedikit kepandaian, kemampuan bersilat lidah, dijamin publik akan sontak. Lihatlah, berapa banyak orang yang hampir tidak memiliki karya kemudian mengklaim diri ahli ini dan itu. Alhasil informasi yang disampaikan tidak lagi tandas, bernas, dan jitu. Namun saya yakin, tentu anda memiliki pendapat sendiri. Catatan saja, informasi tanpa informan bukanlah informasi dan informan tanpa media tak akan pernah menjadi informasi. Disini pergumulan menjadi kabur, media butuh informan pelaku maupun pengamat. Dan informan entah sebagai pengamat, politisi, akademisi tak terkecuali penegak hukum menempatkannya sebagai panggung empuk. Entah untuk tujuan pribadi untuk meraih popularitas maupun tujuan lain.
Berikutnya, media komunikasi yang telah berevolusi dalam bentuk yang lebih kompleks. Ini kita menyebutnya dalam istilah pop sebagai socmed atau social media.
Disadari atau tidak, peran social media dewasa ini telah mengubah cara pandang, cara bertindak bahkan cara berpikir sebagian besar kita. Sebut saja, misalnya mengubah habit setiap pengguna menjadi lebih aktif. Terlebih dengan semakin beragamnya jenis aplikasi media sosial yang digunakan dewasa ini seperti Facebook, Twitter, Path, dan jenis layanan lainnya. Bukan hanya itu, evolusi baru yakni terintegrasinya seluruh media sosial terhadap portal berita yang tersedia secara on-line ikut andil mengubah habit penggunanya. Dengan itu, peluang meraup keuntungan dari perusahaan-perusahaan tersebut semakin besar pula, salah satunya melalui iklan.
Berikutnya yang ketiga adalah perusahaan penyedia alat komunikasi dan jasa komunikasi. Saya tidak ingin menyebutnya dalam istilah keren provider dan vendor. Cukuplah dengan istilah itu saja. Hal terakhir dan ini yang tidak bisa diabaikan, keinginan publik (bukan masyarakat) yang ingin terlibat baik langsung maupun tidak langsung terhadap setiap lini pemerintahan. Saya kira tidak perlu kiranya mengurai ini lebih jauh, sebab rasanya kita cukup paham. Sejak reformasi 98 bergulir, mata publik seolah menjadi awas terhadap semua peristiwa yang terjadi. Dan yang keempat adalah masyarakat dalam definisi umum.
Disadari atau tidak, perkembangan TI turut andil besar dalam hal ikhwal itu. Bayangkan saja, ketika belum seramai ini penggunaan teknologi komunikasi berupa telepon pintar, tentu media sosial tak seramai ini. Dan dapat kita tebak siapa yang mengambil manfaat besar atas ini. Perusahaan penyedia telepon dan penyedia jasa layanan komunikasinya. Sebut saja Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan perusahaan lain. Pastilah dengan semakin banyaknya orang mengakses informasi di dunia maya tentu keuntungan pun semakin besar. Hasil analisis yang dikembangkan pengamat telekomunikasi, akses data dari pengguna telepon pintar terus meningkat di tahun tahun terakhir ini dan diprediksi masih akan terus meningkat. Dalam kerangka kerja industri, tentu itu bukan nilai pasar yang kecil, bukan? 
Namun dibalik itu, kita juga tidak boleh menutup mata. Dalam industri besar itu, banyak anak bangsa yang menggantungkan kehidupan ekonomi keluarganya. 
Wallahu alam bisawab [SRM].

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Baca juga:  Muna sebagai Universitas Politik

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)