Berganti Wajah (Part 2) | Cerpen

Ilustrasi Berganti Wajah (Foto by ummi-online.com)

Cerpen Berganti Wajah

Tapak Kedua
PERGANTIAN ITU MUDAH

Tiba-tiba aku ingin pulang. Malam itu aku sengaja meminjam motor tua teman aku. Hendak ke rumahmu sekedar untuk pamit. Jalan raya begitu basah bahkan becek menggenangi aspal karena got-got telah penuh dengan sampah yang segaja dibuang ke situ karena halaman tak mampu lagi menampung bahkan bak-bak sampah yang sengaja dibangun oleh Dinas Kebersihan Kota tak berguna lagi. Baunya tengik dan sangat menusuk hidungku yang belum dikena air mandi sejak beberapa hari lalu.

Dengan modal motor tua, kuayun langkahku. Ku telusuri lorong-lorong, hingga gang-gang sempit yang tak terawat, dekil, sesak dengan sampah. Hampir setengah dua belas malam aku sampai di depan rumah kamu. Hitam. Kelam dan dinginnya malam menyatu denganku saat itu. Aku tidak punya pilihan lain untuk membangunkanmu selain dengan menelponmu. Itupun kalo kamupun sedang tertidur pulas. Tapi aku yakin seperti yakinnya para takliq. Percaya pada sesuatu yang tak aku ketahui. Hanya meraba, mebenarkan apa yang seharusnya tak benar. Menyalahkan apa yang seharusnya tak salah. Itulah aku malam itu. Mencoba mengais-ngais apa tertinggal dalam hati. Tapi yang ada hanya keinginan tuk segera menghubungimu.

Kuronggoh telepon selulerku, segera kucari nomormu.
Tut! Tut! Tut!
Halo! Saya di depan rumahmu skarang. Boleh keluar sebentar ngga?? Tanyaku.
Senyap. Tak ada suara yang menjawabku. Hanya longlongan anjing yang ketakutan, karena melihat para malaikat yang sedang turun dari langit. Membawa seribu pesan dari sana. Mereka mengabarkan apa yang tak diketahui manusia lewat bisikan. Mereka membisikan itu pada setiap mereka yang mencari, mencoba menenangkannya dengan pengetahuan. Seperti juga ilham.
Aku mencoba menajamkan pendengaranku sedemikian. Mencoba menggunakan pendengaranku tuk mengetahui. Mengetahui sesuatu yang ada dibalik telepon. Ada suara yang berbisik. Berbisik tentang sesuatu. Sesuatu yang tak juga memberikan aku ketenangan, pengetahuan. Suara itu samar, begitu samar. Menyimak, mencoba menyimak sedalam-dalamnya bisikan itu. Khusyu. Seperti para pertapa yang mencoba berbicara dengan hatinya.

Tiba-tiba Tut! Tut! Tut!.
Teleponnya dimatikan.
Kaget. Begitu kagetnya aku yang sedang khusyu, tiba-tiba dibangunkan dengan suara yang tak kuinginkan ini.
Diam. Aku mencoba mengurai setiap detil dari deretan bisik dan dengus yang kudengar. Memang dalam bisikan itu seperti engkau mendesus, mengengus seperti babi yang mengais-ngais ubi kayu di kebun tua kakeku. Ada suara yang tak seharusnya aku dengar. Suara yang tak sepantasnya ada. Suara bisikan yang begitu berat. Bernada tenor. Vokal yang begitu samar. Pikiranku mencoba mengira tentang sesuatu yang begitu dengan vokal tennor. Suara seperti itu begitu identiknya dengan laki-laki. Mungkin memang suara itu dikeluarkan oleh mulut laki-laki. Tapi siapa. Apakah suaraku sendiri yang kudengar? Bisikku dalam hati. Tapi bagaimana mungkin suara itu milikku. Dengusan itu jelas bukan suaraku. Karena dia berasal dari arah yang berlawanan dengan aku. Dia berasal di seberang sana. Dikejauhan tempat aku menelpon.

Jangan-jangan dia tidur dengan laki-laki. Ah! itu hanya firasatku saja. Firasat kutepis, dan semakin kutepis firasat itu semakin menggerogoti pikiranku. Terus dan terus. Karena yang kutahu engkau memang seperti itu. Tapi siapa laki-laki itu?? tanyaku dalam hati.

Pikiran detektifku mulai muncul. Memang aku bukan detektif. Bukan seperti Conan sang detektif itu. Tapi pikiran nakalku muncul, mencoba mengais-ngais suara siapa yang telah menemanimu semalam begini, selarut ini. Dikamar tidurmu. Di atas kasurmu, dengan lampu temaran yang romantis itu. Siapa? Siapa? Aku mencoba mengecek beberapa nama yang selama ini engkau sebut-sebut.

Suara hatiku membisikku nama itu. Siapa lagi kalau bukan dia. Semalam begini. Seperti ini. Kalian berbuat apa kalau bukan seperti itu. Suara itu mewakili perbuatan kalian dimalam itu.

Tak banyak kata yang terucap dimulutku. Kuhisap dalam-dalam tembakau yang sedari tadi diam dimulutku. Ku tatap jendela kamarmu. Sosok manusia seakan mengintipku di jendela. Mungkin engkau mencoba menatapku.
Ah! itu hanya untuk menghibur diriku yang lagi kesal. Kesal sama diriku sendiri yang menyaksikan kejadian yang seharusnya tak kulihat. Tak kusaksikan.

Tapi ah! Semuanya sudah terjadi.
Ku ayun kembali motor tua pinjaman itu. Gas motor kutarik dalam-dalam, sampai-sampai kalo masih bisa disambung tali gasnya, akan kutarik sampai habis. Seakan pikiranku menjadi mati. Aku telah mati.

Baca juga:  Sajak Pergantian | Madhy Kheken

Hujan rintik, becek, kendaran lain dan lampu merah tak kupedulikan lagi. Aku telah mati.
Lesu.
Aku mengayun langkah menuju pintu kamar kostku yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu. Kukunci pintu rapat-rapat.
Diam.
Hening.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Bisu.
Malam itu kuhabiskan pulsa yang tersisa di telepon selulerku dengan mengirim pesan singkat ke nomormu. Karena sebelumnya aku mencoba menghubungi nomormu tapi tak aktif lagi.

Engkau hadir dalam benak seperti rasa. Engkau menusuk, membuat luka lebih parah dari belati. Engkau memberi lebih dari para penderma. Aku takkan sujud pada Semesta jika harus mengagungkanmu. Engkau telah mengangkat air laut menuju ke darat, membuat lorong-lorong menjadi penuh sesak penderitaan yang sengaja kau ciptakan dengan keangkuhanmu. Engkau menafkahi secara berlebihan, bahkan yang tak pantas kau nafkahi. Engkau menawan setiap gerak pelangi dalam kibasan senyuman yang kau ciptakan demi keangkuhanmu. Engkau menggerayangi semesta dengan kelamin. Engkau mencipta apa yang seharusnya tak ada. Dan kaupun menghancurkan apa yang seharusnya tetap ada bahkan sampai dirimu habis. Begitu banyak buih yang telah kau ciptakan dari gerakan yang tak teraturmu.

Diam.
Tiba-tiba wajah ibuku hadir di benakku.
Menyapaku.
Membelai rambutku.
Mencoba memunguti pecahan hatikku yang telah hancur berantakan.
Berserakan.

Kurasakan dimataku basah. Basah oleh air mata.
Segera saja aku sujud.
Menunduk.

Aku harus pulang.
Tak ada pilihan lain. Aku harus hijrah. Meninggalkan kepedihan ini. Meninggalkan kota yang memberi kepedihan dan kebahagian. Kota yang selama ini kulabuhkan seribu harapanku. Kulabuhkan cita-citaku.

Azan subuh berkumandang. Aku masih duduk terdiam di tempat itu. Tak bergerak sedikitpun dari situ. Segera aku bergerak. Mengambil air wudhu yang memang jarang aku lakukan. Bukan untuk shalat. Tapi untuk sekedar menyejukkan jiwaku yang rapuh.

Sejuk.
Dan aku kembali duduk. Mencoba mengheningkan hati. Menggerayangi semesta pagi. Membaui hingga ke dalam dada yang rapuh.
Pukul sembilan pagi. Segera kurapikan pakaian. Kumasukan apa yang bisa masuk di tas. Mandi dan berpakaian. Siap-siap untuk berangkat.
Tut! Tut! Tut!
Ibuku meneleponku. Hatikupun berdebar-debar. Apa yang hendak aku katakan.
Ma… saya mau pulang. Saya sudah tidak tahan lagi.
Kenapa?
Saya tidak tau kenapa. Saya hanya rindu dengan wajah mama. Sudah lama rasanya saya tidak melihat wajah mama.
Obrolan singkat tapi mendalam bagi jiwaku yang telah hancur. Seakan aku mendapat energi baru setelah pembicaraan itu.

Tut! Tut! Tut!
Telepon seluler itu bunyi kembali. Kulihat nomornya. Namamu. Aku bingung antara menerima telepon itu atau tidak. Hatikupun luluh. Walaupun sakit di dadaku masih terasa tapi masih aku sisakan tempat untuk menerimamu. Walau sekedar lewat telepon.
Aku minta maaf ya..” katamu.
Yah.. aku sudah maafkan kamu sejak pagi tadi. Tidak perlu kamu minta maaf, karena aku yang salah telah mengganggu istrahat dan kesenanganmu tadi malam.
Kenapa bilang begitu?? Tanyamu.
Ngga… ngga ada maksud apa-apa kok. Sudah ya.

Segera kututup teleponku. Walau aku berharap masih banyak kata yang harus aku ucap. Masih banyak kata yang ingin pula aku dengar dari bibirmu yang pernah aku lumat itu. Tapi begitulah aku. Mencoba menjauh tapi berharap ntuk dekat. Berharap mengobrol banyak tapi aku sendiri yang menghentikannya.

Pukul sebelas menjelang siang. Aku segera mengangkat tas yang telah siap sedari pagi tadi untuk menemaniku diperjalan pulang. Pulang ke hatiku. Pulang keharibaan Ibuku. Aku meninggalkan beribu kisah dan cerita yang layak aku tulis. Yang layak diperdengarkan. Tapi aku juga meninggalkan beribu kisah dan cerita yang tidak layak aku tulis, tidak layak aku perdengarkan. Sebagaimana banyak kisah yang orang-orang ceritakan, ada yang disembunyikan dan adapula yang dinyatakan. Seperti kata Muhidin dalam bukunya Kabar Buruk dari Langit.

Dua tahun telah berlalu, tapi kejadian itu membekas dalam hatiku. Menyita tempat yang seharusnya sudah aku buang jauh-jauh. Membuangnya di tong sampah milik Dinas Kebersihan Kota atau di got-got atau di kanal-kanal. Seperti sampah, yang terbuang sembarangan di kota ini. Tapi tidak aku lakukan. Aku tetap menyimpannya. Walaupun dadaku telah sesak. Hanya saja aku mencoba meluaskan hatiku agar kisah itu tetap ada. Aku membiarkannya menjadi referensi hidupku. Agar aku bisa mengurainya menjadi potret perjalananku.

***

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)