Sahabatku Rokok | Adaptasi

Ilustrasi (Foto by beritalangitan.com)

Sajak | Sahabatku Rokok
adaptasi Madhy Kheken

Aku mengadu pada asap rokok yang mengepul
Memutar kata-kata, kekiri dan kekanan
Banyak jawaban dalam rangkaian debu yang jatuh
Bukan pada asap yang mengepul

Dia tak bicara banyak tentang kehilangan
Dan tak pernah takut walaupun jelas cepat habis terbakar
Walaupun tak pernah jadi cerita yang serius
Tetapi selalu jadi teman dimasa-masa genting dan sepi

Lalu, mengapa kamu menuduhku bersekongkol dengan maut agar cepat merenggutku?
Padahal inilah batang-batang yang telah habis menjadi debu
Dan, asap telah menjadi kejujuranku yang tersisa
Dan, jika ini kau renggut pula, sebagaimana kau merenggut banyak hal lainnya,
Lalu, pada siapa aku mau berterus terang?
Dan, yang kutahu banyak tangan yang menyentuhmu, layu dan mati

Baca juga:  MUNA dan Politik ATHENA

Dan, hari demi hari adalah kumpulan beberapa batang rokok yang kuisap
Berapa persen tar yang mengendap
Berapa ratus ribu nikotin bersatu dengan sel paru-paruku
Tidak, aku tidak akan bilang menyesal
Selama dia sahabatku, aku rela mati untuknya
Dan, diapun setiap saat selalu mati untukku

Dalam asap rokok, aku terbatuk-batuk
Sebuah kejujuran terhadap rasa sakit yang tak pernah kusembunyikan
Tidak seperti banyak rasa lain yang bisa aku padamkan
Dalam asbak hati yang kuat

Aku biarkan yang satu ini, mengalir seperti apa adanya..

Melampaui Batas Waktu
Makassar

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)