PEREMPUAN di Negeri Bencana; Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan RI

9389-selamatkan-anak-perempuan-dari-bencana
Foto by tabloidnova.com

Suatu keniscayaan yang mesti dipegang oleh mereka yang simpati terhadap ini semua, bahwa tidak ada satupun laki-laki yang dilahirkan dari rahim laki-laki melainkan selalu lahir dari rahim para perempuan. Tetapi suatu kemustahilan bahwa perempuan dapat melahirkan tanpa adanya laki-laki yang membuahi rahim para perempuan. Yang mesti terjadi adalah keseimbangan dan keserasian yang menyadari fungsi masing-masing, yang tidak mendominasi yang satu terhadap yang lain, melainkan saling menopang antara laki-laki dan perempuan.

tidak ada suatu negeri yang mampu bertahan di muka bumi bila kaum perempuannya dipojokkan oleh sisi-sisi kehidupan yang mereka bangun, terlebih pada kebudayaan yang selalu menempatkan perempuan sebagai sosok yang tak berdaya, dan tak punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri sebagaimana kaum laki-laki

***

udhany.web.id Madhy Kheken 31 Januari 2009. – Saat ini perempuan telah menjadi icon tersendiri dalam menjelaskan bagaimana melihat dan memahami pembangunan di Indonesia. Setelah 64 tahun Merdeka, peran perempuan mestinya menyublim dalam dasar pembangunan bersama dengan aktor-aktor lain. Perempuan mestinya menjadi mitra yang sejatinya senantiasa ikut mewarnai setiap garis sejarah Indonesia. Perempuan seharusnya menjadi apa yang ia (perempuan) inginkan dalam mewarnai garis legenda negeri ini. Dalam paruh usia yang jelah menginjak 64 tahun kemerdekaan, yang merupakan usia yang terbilang dewasa dengan sejarah dan lika-liku yang panjang mestinya cukup untuk jadi sandaran bagi kita semua dalam melihat dan memahami perempuan. Disadari bahwa dewasa ini pemerintah senantiasa melakukan pembaharuan dan pembangunan di segala bidang kehidupan. Di usia yang terbilang mapan ini pula mestinya tampil tokoh-tokoh dari kalangan mereka sendiri yang mampu menjadikan perempuan sebagai legenda bagi perjuangan kaum perempuan yang telah lama tertindas, dari zaman pra-kemerdekaan hingga zaman hari ini.

Sebuah keniscayaan realitas, beberapa tahun terakhir telah banyak mengalami bencana, baik itu bencana kemanusiaan maupun bencana alam yang telah banyak menelan korban jiwa dan harta bangsa Indonesia. Dalam budaya Timur yang kental, kita selalu dan senantiasa mengasosiasikan “bencana” dengan “ujian” yang mesti dihadapi oleh kita semua yang ingin maju dan terus berkembang hingga mencapai apa yang kita cita-citakan bersama. Namun, menjadi sebuah dilema bagi kita untuk mengurai kejadian demi kejadian yang menimpa negeri ini kedalam beberapa uraian. Kita boleh saja meletakkan kejadian-kejadian ini dalam kerangka sains dan teknologi, atau mungkin dalam kerangka spiritual bahkan mistis keagamaan kita namun perlu disadari pula bahwa pendekatan-pendekatan itu memiliki muara yang berbeda dalam arti sempit maupun umum.

Dalam kerangka sains, banyak uraian para pakar begitu pula teknologi yang telah dikembangkan untuk mendeteksi seluruh kejadian-kejadian, misalnya teknologi deteksi dini gempa dan lain-lainnya, tetapi dengan hasil yang tetap sama, kita gagal mengantisipasi dan mitigasi bencana alias Nihil. Para spiritualis maupun mistis keagamaan pun tak jauh berbeda. Tokoh-tokoh spritual telah banyak pula yang angkat bicara, melihat dan merasakan ketidakpuasan terhadap hasil temuan sains dan teknologi, yang muaranya tentu mengarahkan kita pada bagaimana bisa lebih mendekatkan diri kita pada Yang Kudus, Yang Kuasa. Hasilnya, ya sebagaimana kita lihat dan rasakan. Untuk itu semua, kita patut bertanya apa yang salah dengan negeri dan warga bangsa ini?

Tulisan ini bukan menyoroti apa yang telah dilakukan oleh para pakar sains teknologi dan spiritualis mistis keagamaan kita, tetapi mencoba menarik garis lain yang mungkin bisa mengarahkan kita pada muara yang bisa lebih objektif tanpa harus mengagungkan yang satu dan menistakan yang lainnya.

Bagi saya, apa yang terjadi di negeri kita akhir-akhir ini bukanlah menjadi sebuah sebab bagi kita untuk segera mencari alternatif teknologi untuk mencegah dan atau menanggulangi kejadian demi kejadian yang ada. Mestinya seluruh daya upaya kita miliki haruslah mengarahkan kita untuk melihat lebih jauh. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita. Mungkin pantas kita bertanya, ada apa dengan Indonesia hari ini? Mengapa negeri yang penuh sesak dengan orang-orang cerdik pandai, ahli-ahli mumpuni ini, penuh spritualitas dan jampi-jampi ini, dengan jumlah Muslim terbesar dunia ini, dengan jumlah jemaah haji yang tak pernah berkurang setiap tahun itu tak mampu melacak apa yang akan terjadi kemudian? Mengapa negeri yang penuh sesak dengan orang beragama ini, diuji dengan bencana dahsyat bertubi-tubi yang telah menghancurkan siapa saja tanpa pilih kasih? Ada apa dengan Indonesia?

Sangat pantaslah untuk kita, semua elemen bangsa untuk menelaah, merenungkan dan mencoba merefleksikan semuanya dalam satu kalimat utuh. Menoleh kekiri dan kekanan, menatap jauh kedepan dan menoleh kebelakang. Melihat ke atas dan kebawah. Apa yang saya maksudkan disini adalah perlunya menyeimbangkan apa yang selama ini barangkali tidak pernah berimbang. Mungkin selama ini, kita hanya menghabiskan waktu di perpustakaan guna menelaan sains, tetapi kita tak sedetikpun bersama perpustakaan hati kita. Mungkin kita banyak mengurus harta sebagai kebutuhan dunia, dan melupakan kebutuhan hati kita.

Kata kunci kita adalah keseimbangan (mizan) antara semua, tanpa melebihkan yang satu dari yang lain.

Perempuan yang diletakkan sebagai sebuah simbol yang memitos dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang plural dengan kebudayaan dan kebuasannya, dengan keseriusan dan kerakusannya, dengan keharmonisan dan kehancurannya, telah meletakkan perempuan sebagai sosok Agung dalam artian metaforik ataupun kamuflase kosakata yang memukau banyak perempuan Indonesia. Adalah suatu penindasan kata-kata terhadap perempuan itu sendiri yang icon-nya diagungkan tetapi raga dan bagian-bagian dari tubuhnya disetubuhi di jalan-jalan oleh kebringasan atau kapitalisme yang mengglobal.

Bahwa dalam upaya mengembalikan harkat dan martabat perempuan itu pernah dilakukan salah satunya dan yang terpenting dalam Deklarasi Meksiko tahun 1975 tentang Kesetaraan Perempuan sebagai Konferensi Dunia Perempuan Internasional yang mendesak sekuatnya kepada semua pemerintah, seluruh sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi antar pemerintah regional dan internasional serta komunitas internasional secara keseluruhan agar mengabdikan diri bagi terciptanya masyarakat yang adil dimana kaum perempuan, laki-laki dan anak-anak dapat hidup dalam martabat, kebebasan, keadilan dan kemakmuran, sebagai sebuah deklarasi tentang kesetaraan perempuan dan sumbangan mereka bagi pembangunan dan perdamaian. Namun lagi-lagi belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Jauh sebelum adanya deklarasi tersebut, perempuan dengan berbagai wataknya telah banyak melakukan perjuangan dan pemberontakan dalam menuntuk hak-haknya, baik yang tercermin dalam penerimaan maupun dalam penolakan terhadap citra yang diletakkan oleh pihak eksternal baik di ranah publik maupun domestik. Ada contoh ketika perempuan menerima apa adanya (taken for granted) atau bahkan menikmati pembatasan-pembatasan struktural atau kultural terhadap mereka. Sebaliknya banyak contoh perempuan yang berusah memberontak terhadap pembatasan dan berusaha untuk hadir memperjuangkan hak-haknya sebagai manusia utuh.

Uraian panjang ini dimaksudkan untuk merefleksikan bagaimana perjuangan perempuan dalam merebut hak-hak utuhnya sebagai manusia di tangan kungkungan struktural dan kultural sebuah bangsa. Sebagai sebuah gerakan pencerahan perempuan telah muncul dalam berbagai bentuk dan wataknya masing-masing. Baik itu yang tampail sebagai sosok individu maupun yang tampil dalam sosok organisasinal. Sebagai contoh, Kartini yang telah disimbolkan sebagai bentuk perjuangan dan watak perempuan Indonesia, serta Poetri Mardika yang tampil sebagai sosok individu dan organisasi.

Baca juga:  Asa dan Cinta

Kartini, Simbol Emansipasi Perempuan

Gerakan perempuan di negeri ini sangat dekat dengan sosok Kartini. Mengapa harus Kartini? Kartini bukan aktivis perempuan, karena tidak secara langsung membuat suatu gerakan atau mengorganisasi para perempuan. Kartini juga bukan politisi karena tidak pernah terlibat dalam organisasi politik manapun. Ia juga bukan seorang pahlawan yang memanggul senjata. Kartini justru menghabiskan hidupnya di balik tembok istana. Ia hanya mampu menulis surat kepada sahabatnya Stella di Belanda untuk mengungkapkan isi hatinya. Kartini sangat terobsesi untuk mengeluarkan perempuan dari ”penjara” domestik dan menjadikannya sebagai manusia utuh sejajar dengan kaum laki-laki.

Pandangan-pandangan emansipatoris Kartini menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis bagi para perempuan dan kemunculan-kemunculan organisasi-organisasi perempuan setelahnya. Pada masa penjajahan, di Indonesia memiliki sejumlah organisasi perempuan seperti Poetri Mardiko, Young Javanese Girls Circle, Wanita Oetomo, Aisyiah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Muljo dan Jong Islamietenn Bond serta lainnya di berbagai daerah. Kelompok-kelompok perempuan yang mengorganisasi diri itu tidak lain dimaksudkan bagaimana mereka memajukan bangsanya, membantu kaum lelaki dan keluar dari kungkungan sebagai manusia lemah yang hanya bisa mengurus rumah tangga semata.

Simbolisasi Perempuan

Pemosisian perempuan yang paling nyata dapat dilihat pada simbol-simbol yang terbangun. Tetapi sistem simbol yang terkait dengan perempuan sangat rumit, tidak memungkinkan untuk ditarik pada satu kesimpulan tunggal. Secara simbolik perempuan mendapat tempat yang sangat terhormat dalam imajinasi orang Indonesia. Misalnya, Bumi Nusantara sering dijuluki Ibu Pertiwi, seperti pada ungkapan ”Pahlawan kita telah gugur dan kembali kepangkuan Ibu Pertiwi”. Berbagai mitos yang meletakkan perempuan pada posisi tertinggi, seperti Mitos Dewi Sri sebagai lambang kesuburan tanah pertanian, serta berbagai bentuk mitologisasi simbol lainnya. Sayangnya, simbolisasi ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu (penguasa) dalam hal ini laki-laki sebagai pemanis untuk menenangkan perempuan, atau sebagai pembungkus nilai patriarki yang sebenarnya mewarnai hubungan kental antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat.

salah satu bentuk hubungan timpang itu adalah subordinasi perempuan yang menempatkan perempuan sebagai objek pemuas syahwat laki-laki dan keterkungkungan kebudayaan yang membuat perempuan tidak bisa keluar dari frame berpikir masyarakat, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang serba penurut demi kehormatan keluarga.

Dalam lingkungan kerajaan, dengan budaya priyayi sangat menekankan pada hierarki kebangsawanan yang runcing. Seperti dalam kebudayaan Jawa dan beberapa kebudayaan lainnya, tak terkecuali Bugis. Pada masyarakat keraton, perempuan dimaknai tidak lebih sebagai pemuas nafsu birahi laki-laki bangsawan dan harus bisa merawat badan untuk memuaskan hedonisme seks laki-laki bangsawan. Perempuan priyayi harus pandai menari sehingga dapat menghibur laki-laki. Ia harus bisa sopan santun dengan menggunakan bahasa halus pada laki-laki. Norma-norma kebudayaan priyayi yang lebih ketat diterapkan pada perempuan umumnya berupa larangan dalam berperilaku yang membatasi kebebasan perempuan. Kebudayaan priyayi secara tegas membedakan pekerjaan perempuan dan laki-laki. Perempuan harus memelihara kesehatan dan kecantikan tubuh dengan meminum jamu, mengenakan busana yang menarik gairah suami, berperilaku dan bertutur kata yang sopan dan etis, serta mempelajari pengetahuan seksual.

Dalam nilai-nilai sosial, baik yang bersumber dari ajaran agama maupun dari tradisi, dapat menjadi faktor yang meminggirkan perempuan. Perempuan dapat terkonstruksi secara sosial sebagai makhluk yang tunduk, loyal, lembut, pasrah, dan mengabdi, serta tempat yang dianggap sesuai untuk perempuan adalah rumah, peran yang harus diemban dan tidak boleh ditinggalkan adalah mengurus rumah tangga. Pengingkaran atas peran itu adalah perlawanan terhadap sistem tata nilai kerajaan.

Telaah Arus Pemikiran

Gianni Vattimo meramalkan postmodern dengan Proyek Pencerahan (modernitas) untuk meng-emansipasi manusia dengan pemberdayaan rasionya lewat proses penaklukan alam dan penataan organisasi masyarakat secara rasional telah memunculkan teknologi baru dan perkembangan media massa. Masyarakat di era postmodern mengalami perubahan makna emansipasi dari yang idealnya pernah dikemukakan oleh era modern. Masyarakat modern-isme memahami emansipasi sebagai suatu kegemilangan proses manusia menjadi dirinya sendiri terutama melalui perasionalisasian semua aspek kehidupan yang berpuncak pada pen-teknologisasi-an bidang-bidang kehidupan.

Dalam perkembangan pemikiran yang melahirkan interpretasi yang beragam terhadap perempuan mewujud dalam berbagai bentuk pola kebudayaan. Perempuan yang telah diasosiasikan sebagai sebuah bagian yang tak pernah bisa menentukan apa yang menjadi dirinya sendiri. Dalam abad ini, peminggiran terhadap perempuan semakin terlihat nyata. Perempuan telah dijadikan sebagai komoditi yang harus dieksplotasi. Eksploitasi terhadap perempuan terjadi pada berbagai bidang kehidupan. Misalnya eksploitasi “media”. Sebagaimana dalam ungkapan karikaturis yang memberi gambaran jelas bagaimana objetifikasi dan eksploitasi terjadi; “Di negeri kami, tubuh perempuan bukan milik perempuan. Dada dan paha sudah dijatahkan di biro iklan dan wartawan. Vagina dan rahim adalah lahan resmi proyek nasional KB.”

Di negeri kami, tubuh perempuan bukan milik perempuan. Dada dan paha sudah dijatahkan di biro iklan dan wartawan. Vagina dan rahim adalah lahan resmi proyek nasional KB

Simpulan

Akhirnya apa yang terjadi dengan kita selama ini, adalah sebuah kerjasama dari kita semua yang telah menyepakati baik secara teoritis maupun praktis untuk tetap meletakkan perempuan pada status yang tidak berubah. Hanya dengan bentuk dan kamuflase yang berbeda pada setiap zamannya yang mengalami perbedaan. Indikator-indikator kita tetaplah sama dari zaman ke zaman mulai dari era Kartini hingga hari ini. Mungkin para Ibu masih perlu banyak melahirkan Kartini-Kartini baru, guna memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak leluhurnya, serta mengurangi lahirnya bayi laki-laki sebagai konsekuensi dari perlawanan yang ada.

Mungkin para Ibu masih perlu banyak melahirkan Kartini-Kartini baru, guna memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak leluhurnya, serta mengurangi lahirnya bayi laki-laki sebagai konsekuensi dari perlawanan yang ada

Suatu keniscayaan yang mesti dipegang oleh mereka yang simpati terhadap ini semua, bahwa tidak ada satupun laki-laki yang dilahirkan dari rahim laki-laki melainkan selalu lahir dari rahim para perempuan. Tetapi suatu kemustahilan bahwa perempuan dapat melahirkan tanpa adanya laki-laki yang membuahi rahim para perempuan. Yang mesti terjadi adalah keseimbangan dan keserasian yang menyadari fungsi masing-masing, yang tidak mendominasi yang satu terhadap yang lain, melainkan saling menopang antara laki-laki dan perempuan.

Maka sangat pantaslah bahwa negara dan bangsa yang tidak menghormati kaum perempuannya tidak akan pernah menjadi besar, baik di saat ini maupun di masa depan. Satu alasan mendasar sebagai penyebab kejatuhan bangsa anda secara drastis adalah karena anda tidak memiliki rasa hormat pada kehidupan perempuan. Jika anda tidak membangkitkan kaum perempuan yang merupakan perwujudan Ibu Pertiwi, apakah anda pikir memiliki cara lain untuk bangkit? (Swami Vivkananda dalam Mahatma Gandhi, 2002, Kaum Perempuan dan Ketidakadilan Sosial).

Bagiku, tidak ada suatu negeri yang mampu bertahan di muka bumi bila kaum perempuannya dipojokkan oleh sisi-sisi kehidupan yang mereka bangun, terlebih pada kebudayaan yang selalu menempatkan perempuan sebagai sosok yang tak berdaya, dan tak punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri sebagaimana kaum laki-laki [SRM].

***

Image courtesy of Rochmady | SCofCI Indonesia

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)