Celoteh Panggung Pilkada

156503_dua-orang-fotografer-jadi-korban-kerasnya-laga-persija-melawan-persib_641_452
Ilustrasi

Madhy Kheken

31 Januari 2009

Pentas Demokrasi (Pesta Demokrasi) selalu menampilkan lakon dan sandiwara yang akan meninabobokan setiap pemirsanya. Jauh sebelum hajatan itu dimulai, kita telah dipertontonkan atraksi dan berbagai tarian yang mengundang galak tawa, riuh rendah para penonton. Berbagai bentuk apresiasi diberikan atas lakon dan tingkah yang dipertontonkan.

Layaknya sebuah adegan dalam sebuah cerita, tidak lengkap jika penjiwaan dan peran dari setiap pelaku untuk menunjukkan kebolehannya. Setiap laku akan mendapat penghargaan. Peranpun bermunculan, dari yang antagonis sampai yang melankolis.

Tarian dan liukan dari penari amat memukau penonton. Banyak penari menjadi lupa diri. Menari dengan tarian indah, melompat, berjingrak, meliukan badan. Para penari saling beradu dan unjuk kebolehan. Setiap penari berharap dapat mengalahkan penari lainnya dengan berharap tuk dapat melompat lebih tinggi dari penari lainnya. Suatu gerak yang amat memukau telah menyulap beberapa penari menjadi badut. Badut yang mengundang galak tawa penonton. Membuat penonton tenggelam dalam tawa dan tangis. Setiap penonton larut dalam individualisme-nya. Tak hirau lagi dengan sesamanya. Penonton menjadi kesurupan, lupa akan dirinya, lupa akan kiri kanannya, lupa akan penari yang telah menjadi badut. Lupa akan segala

Baca juga:  BELAJAR DARi KONTU UNTUK NIPA-NIPA; Refleksi Perebutan Lahan di Muna

Pengamatpun berkomentar. Menyahut. Dengan teriakan intelektualitas yang diiringi musik modernisme. Ibarat teriakan Kierkegard menyahut rekayasa sosial Marx. Tak terdengar. Lirih

Alunan musik dengan syair intelektualitas membahana, membumbung ke langit kecongkakan, di bumi penindasan. Tanah bersimbah darah para perawi, para jejaka yang mengayun langkah pembaharuan, perubahan. Genderang pemerasan sistemik berdentang mengalun kesana kemari. Menyusupi setiap sel-sel darah. Hingga menjadi penyakit kanker modernisme yang mematikan..

[SRM]

Image courtesy of Rochmady | SCofCI Indonesia

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)