Bersabar Bersyukur dan Bersyukur Bersabar

becak
Ilustrasi

Ada seorang pemuda, anggaplah namanya Sakib yang telah bekerja tarulah pada salah satu perusahaan sebagai office boy dengan penghasilan tetap per bulannya sebesar Rp. 700.000. Kemudian tersebutlah pemuda yang lain, Amam yang juga bekerja pada salah satu perusahaan sebagai Manager dengan penghasilan tetap per bulannya sebesar Rp. 7.000.000.

Sakib adalah sosok pemuda yang hari-harinya dijalani dengan penuh khidmat, selalu merasa cukup walau hanya dengan gaji sebesar itu. Pakaian dan penampilannya sederhana, makanan yang dimakannya pun dibelinya di pasar-pasar tradisional yang dijual dengan cara digelar dipinggir-pinggir jalan. Tak segan-segan Sakib memasak sendiri demi memenuhi kebutuhan makanannya. Rumah tempat tinggalnya pun tergolong sederhana alias secukupnya. Hampir tidak ada ruangan yang tidak dimanfaatkannya. Seisi rumahnya seakan penuh sesak dengan aktivitas. Bagaimana tidak, rumah yang tergolong kecil itu hanya terdiri atas empat bagian, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Dilingkungan keluarganya, Sakib tergolong anak yang mandiri, karena telah memiliki penghasilan tetap dan rumah sendiri. Sakib juga tidak lupa mengirimi orang tuanya sekedar membantu perekonomian orang tuanya. Bahkan dengan penghasilan sebesar itu, Sakib masih menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk ditabungnya sendiri.

Dibalik itu semua, ternyata Sakib adalah pemuda yang senantiasa bersyukur, dia selalu merasa cukup dengan apa yang dia peroleh. Sakib adalah pemuda yang rendah hati dan selalu tulus dalam membantu dan mengerjakan pekerjaannya. Tak pernah mengeluh. Bahkan teman-teman kantornya berbondong-bondong membeli handphone, mengganti handphone dengan model terbaru, berkamera, MP3, bisa internet dan lainnya, Sakib sama sekali tak mau ikut-ikutan dengan hal-hal yang seperti itu. Bahkan di rumahnya tak ada lemari pakaian. Baginya buat apa membeli lemari, toh untuk menyimpan apa, pikirnya. Pakaianya toh hanya beberapa potong. Pakaian santai di rumah, pakaian shalat, pakaian kerja dan semuanya tak perlu lemari. Hanya perlu keranjang pakaian. Dapurnya pun hanya terdiri dari tiga belanga dan satu kompor. Baginya itu sudah lebih dari cukup.

Soal jodoh baginya merupakan suatu anugrah, jodoh adalah hadiah terindah dari tuhannya selain kehidupan. Bahkan disaat teman, sahabat dan keluarganya yang lain sibuk berpacaran, berta’aruf dan cara lainnya, Sakib justru menyibukkan diri dengan membantu orang lain, orang-orang yang tidak mampu, membantu tetangga yang kesusahan, berbagi dengan mereka dengan apa yang dimilikinya. Baginya hidup terlalu indah untuk disiasiakan, terlalu cepat untuk dipuja menghambur-hamburkan nafasnya pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Terselip pula dihatinya, gadis yang membuatnya selalu merasa bangga telah memiliki kehidupan. Membuatnya tersenyum disaat duka menghapirinya. Membuatnya selalu semangat disaat kegembiraannya direnggut. Tapi baginya itulah hidup yang dijalaninya dengan penuh semangat dan suka cita. Hatinya selalu bahagia.

 

Sedang Amam tergolong pria mapan di zaman seperti ini. Dengan gaji yang tergolong besar, dia mampu membeli mobil dan motor. Bahkan ke kantorpun Amam kadang menggunakan fasilitas kantor, mobil dinas dengan sopir pribadi. Dengan jabatannya sebagai manager, Amam bahkan mendapatkan banyak fasilitas dari kantornya, bukan hanya mobil dinas, bahkan dia juga mendapatkan pelayanan jaminan kesehatan, tempat tinggal yang mewah dan serba lux serta pelayanan lainnya.

Hari-harinya selain dihabiskan untuk keperluan kantor, dia juga menghabiskannya dengan rekreasi dan banyak berkeliling, tur kemana-mana sesuai kemauannya. Bahkan rumah yang dibelinya dengan harga selangit itu hampir-hampir tidak digunakannya karena seringnya dia keluar kota. Jarak antar daerah dan antar negara baginya menjadi lebih singkat. Setiap akhir pekan digunakannya untuk santai dan menghabiskan uang yang tak tau tujuannya untuk apa. Setiap akhir pekan.

Baca juga:  Prinsip dan Seteru

Bahkan kehidupannya dilalui hanya untuk memikirkan peningkatan pendapatan dan meningkatkan jabatannya. Amam tak pernah merasa cukup dengan keadaan seperti itu. Terus berusaha mencapai semua mimpi dan keinginannya. Semua keinginannya memang didapatnya, namun setelah itu dia kembali dihinggapi rasa tak puas. Apa yang didapatnya belum seberapa, bahkan ketika dahulu dia masih sebagai pegawai rendahan di kantornya yang sekarang. Saat ini dia bahkan telah mencapai jabatan tertinggi di kantor itu, namun Amam sama sekali tidak merasa puas dengan itu. Hingga dia menjadi orang yang sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri. Hingga suatu ketika dia divonis dokter mengidap suatu penyakit, jika tak melakukan kontrol kesehatan, bisa-bisa kena stroke.

Dibalik itu semua, Amam, hampir tiap bulan check-up kesehatannya. Pemeriksaan rutin terhadap kesehatannya menggunakan fasilitas kantor melalui jaminan kesehatan namun harus pula menggunakan dana pribadi. Karena layanan jaminan kesehatan hanya berlaku setahun sekali. Maka selama sebelas bulan check up kesehatannya di danainya secara pribadi. Dan banyak hal lainpun yang harus dironggoh kantungnya demi menyelamatkan kehidupannya.

Pribadi Sakib dan Amam adalah sosok manusia yang mewakili kondisi manusia zaman kini. Mereka seakan menjadi ikon kehidupan modern seperti sekarang. Sakib mewakili kelompok manusia yang seakan tersisih dari kehidupan dunia. Sedang Amam adalah manusia yang tergolong beruntung dengan berbagai keadaannya.

Mungkin dengan contoh pribadi tadi belum mewakili gambaran syukur dan sabar. Akan tetapi dengan itu, harapan tuk sekedar mengetahui bagaimana perbedaan kehidupan mereka yang senantiasa bersyukur dan bersabar dengan mereka yang tidak bersyukur dan bersabar dapat sedikit tergambarkan. Pribadi Sakib dan Amam sedikitnya bisa menjelaskan itu.

Bersyukur, bagi Sakib adalah saat dimana hatinya yang merasa cukup. Dengan perasaan cukup itulah yang membuatnya rendah hati. Dengan kerendahan hati yang dimilikinya, maka Sakib mengikhlaskan segalanya. Keadaan ini berbeda dengan Amam. Sehingga perasaan ikhlas dan rendah hati inilah, Sakib mengantarkan dirinya dalam genapnya rasa syukur. Apa yang paling nampak dari dua keadaan diatas, yaitu pendapatan yang jumlahnya amat jauh berbeda antara 700 ribu dengan 7 juta menjadi sama dalam nilainya. Ketika Sakib menerima pendapatannya yang 700 ribu dengan penuh keikhlasan, dengan itu dia merasa rendah hati. Keadaan inilah yang membuat dia senantiasa bersyukur. Dalam kesyukuran itu pulalah tumbuh rasa sabar. Sabar yang tidak identik dengan diam. Akan tetapi sabar yang penuh dengan kesyukuran.

Untuk mengetahui apakah kita telah bersyukur atau belum dapat kita lakukan dengan mengukur perasaan kita sendiri, perasaan kita masing-masing. Mengetahui perasaan kita sendiri maka berarti sama halnya kita sedang mencoba menggambarkan apa yang kita rasakan. Perasaan bersyukur itu adalah perasaan diri yang merasa cukup, merasa rendah hati dan tulus.

Sesungguhnya dalam kesabaran itu ada kesyukuran, karena dalam kesyukuran menyimpan rasa sabar. Sehingga orang yang bersyukur mestilah bersabar dan orang yang bersabar mestilah bersyukur.

Jalan pernikahan memberikan arah kedamaian jiwa, ketenangan bathin serta menetramkan raga karena rasa syukur dalam kesabaran dan kesabaran dalam kesyukuran. Dalam hal ini, ketentraman ekonomi. Maka siapa saja yang melalui dua jalan ini (Sabar dan Syukur), telah dicukupkannya nikmat untuknya dengan penghematan ekonomi yang teramat besar sehingga ia mendapatkan ketenangan jiwa.

Dengannya, membawa kita pada kesyukuran karena telah bersabar.

Wallahualam bisawab [SRM].

***

Image courtesy of Rochmady | SCofCI Indonesia

Komentar anda

komentar

Powered by Facebook Comments

Rochmady

Penikmat kopi tubruk | Pencinta sastra, puisi, dan sejarah | Direktur Executive Study Center of Coastal and Isle | Pendiri Mokesano Institut | Editor in-Chief AkuatikIsle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EISSN: 2598-8298)